Skip to content

SHALAT BERJAMAAH

Shalat Berjamaah

SHALAT BERJAMAAH

Sebuah fakta yang ada di depan mata kita, banyaknya kaum muslimin sekarang yang meremehkan shalat terlebih shalat berjamaah di masjid. Tidak ragu lagi bahwa fakta di atas merupakan kemungkaran yang tidak boleh didiamkan dan diremehkan.
Sebagai seorang muslim kita pasti mengerti tentang kedudukan shalat yang begitu tinggi dalam Islam. Betapa sering Alloh dan RasulNya menyebut kata shalat, memerintah melaksanakannya secara tepat waktu dan berjamaah, bahkan bermalas-malasan darinya merupakan salah satu tanda kemunafikan.
Tanyakan pada hati kita masing-masing, “pantaskah bagi seorannnng muslim meremehkan suatu perkara yang sangat diagungkan oleh Robbnya, nabinya dan agamanya? Apa yang kita harapkan di dunia ini? Bukankah surga yang penuh kenikmatan dan kelezatan yang kita harapkan? Dan siapakah diantara kita yang mau meniru gaya hidup orang-ornag munafiq?
Berikut ini pembahasan singkat tentang shalat berjamaah sebai nasehat dan peringatan bagi saudara-saudara saya seagama. Semoga Alloh menjadikannya bermanfaat bagi kita semua.
وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنفَعُ الْمُؤْمِنِينَ
Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Adz-Dzariyat: 55)

SYARIAT SHALAT BERJAMAAH

Shalat berjamaah bagi muslim laki-laki adalah disyariatkan tanpa ada perselisihan di kalangan para ulama. Imam Nawawi berkata, “Shalat berjamaah diperintahkan berdasarkan hadits-hadits yang shahih dan masyhur serta ijma’ (kesepakatan)kaum muslimin. (Al Majmu’ 4/84)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah juga berkata, “Para ulama bersepakat bahwa shalat berjamaah termasuk amal ibadah dan syi’ar Islam yang sangat agung. Barangsiapa yang beranggapan shalatnya yang sendirian lebih utama dari pada berjamaah maka dia telah keliru dan tersetsat.

Lebih tersesat lagi jika beranggapan tidak ada shalat berjamaah kecuali dibelakang imam yang ma’sum sehingga mereka menjadikan masjid sepi dari shalat berjamaah yang diperintahkan Alloh dan RasulNya. Sebaliknya mekera meramaikan masjid dengan kebid’ahan dan kesesatan yang dilarang Alloh dan RasulNya. (Majmu’ Fatawa 23/222 Al Fatawa Al kubro 2/267).

HUKUM SHALAT BERJAMAAH

Para ulama berselisih pendapat tentang hukum shalat berjamaah sehingga terpolar menjadi empat pendapat (sunnah mu’akkad, fardhu kifayah, fardhu ain dan syarat sah) namun pendapat yang kuat –Wallohu a’lam- pendapat ulama yang mengatakan fardhu ain dikarenakan dalil-dali yang mereka paparkan begitu banyak dan kuat sekali[1] diantaranya:

Dalil Al Qur’an

Alloh berfirman,
وَإِذَا كُنتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلاَةَ فَلْتَقُمْ طَآئِفَةُُ مِّنْهُم مَّعَكَ وَلِيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِن وَرَآئِكُمْ وَلْتَأْتِ طَآئِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ وَدَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُم مَّيْلَةً وَاحِدَةً وَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِن كَانَ بِكُمْ أَذًى مِّن مَّطَرٍ أَوْ كُنتُم مَّرْضَى أَن تَضَعُوا أَسْلِحَتَكُمْ وَخُذُوا حِذْرَكُمْ إِنَّ اللهَ أَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُّهِينًا
Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat bersamamu) sujud (telah menyempurnakan  satu rakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, lalu shalatlah mereka denganmu ( QS. An Nisa’ 102)
Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas bahwa shalat berjamaah hukumnya fardhu ain bukan hanya sunnah atau fardhu kifayah,  Seandainya hukumnya sunnah tentu keadaan takut dari musuh adalah udzur yang utama. Juga bukan fardhu kifayah karena Alloh menggugurkan kewajiban berjamaah atas rombongan kedua dengan telah berjamaahnya rombongan pertama. (Kitab Sholah hal. 138, Ibnu Qoyyim)
Al Alamah As- Sinqithi berkata dalam Adwaul Bayan 1/216, “ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas tentang wajibnya shalat berjamaah.”
Alloh berfirman,
وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ
Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’ (QS. Al-Baqarah: 43)
Imam Ibnu katsir berkata dalam tafsirnya 1/162, Mayoritas ulama[2]  berdalil dengan ayat ini tentang wajibnya wajibnya shalat berjamaah.

DALIL HADITS

Dari Abu Hurairah bahwasannya Rasulullah bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh aku berkeinginan untuk memerintahkan dengan kayu bakar lalu dibakar, kemudian aku memerintahkan agar adzan dikumandangkan. Lalu aku juga memerintah seorang untuk mengimami manusia, lalu aku berangkat kepada kaum laki-laki (yang tidak shalat) dan membakar rumah-rumah mereka.” (HR. Bukhari 644 dan Muslim 651)
Imam Bukhari membuat bab hadits ini “Bab Wajibnya Shalat Berjamaah”. Al-Hafizh  Ibnu Hajar berkata, “hadits ini secara jelas menunjukkan bahwa shalat berjamaah fardhu ain, sebab jika hukumnya sunnah maka tidak mungkin Rasulullah mengancam orang yang meninggalkannya dengan acaman bakar seperti itu.” (Fathul Bari 2/125).
Ibnu Mudzir [3] juga mengatakan serupa, “Dalam hadits ini terdapat keterangan yang sangat jelas tentang wajibnya shalat berjamaah, sebab tidak mungkin Rasulullah mengancam seorang yang meninggalkan suatu perkara sunnah yang bukan wajib.” (Dinukil Ibnu Qoyyim dalam kitan Sholah hal. 136).
Ibnu Daqiq Al-I’ed berkata, “Para ulama yang berpendapat fardhu ain berdalil dengan hadits ini, sebabb jika hukumnya fardhu kifayah tentunya telah gugur dengan perbuatan Rasulullah dan para sahabat yang bersamanya. Dan seandainya hukunya sunnah tentu pelanggarnya tidak dibunuh. Maka jelaslah bahwa hukunya adalah fardhu ain. (ikamul Ahkam I/164)
Dari Abu Hurairah berkata, “Ada seorang buta [4] datang kepada Rasulullah seraya berkata, “Ya Rasulullah, tidak ada seorang yang menuntunkuke masjid, adakah keringanan bagiku?” Jawab Nabi, “Ya.” Ketika orang itu berpaling, Rasulullah bertanya, “Apakah kamu mendengar adzan?” Jawab orang itu, “Ya.” Kata Nabi selanjutnya, “kalau begitu penuhilah.” (HR . Muslim 653)
Ibnu Qudamahberkata dalam Al-Mughni2/130, “Kalau nabi saja tidak memberi keringanankepada orang buta yang tidak ada penuntun baginya[5] maka selainya tentu lebih utama.”
Al-Khoththobi berkata dalam Ma’alim Sunnah I/160-161, “Dalam hadits ini tekandung dalil bahwa menghadiri shalat berjamaah adalah wajib. Seandainya hukumnya sunnah niscaya orang yang paling berhak mendapatkan udzur adalah kaum lemah seperi Ibnu Ummi Maktum.”

PERKATAAN SAHABAT

Abdullah bin Mas’ud berkata, “Barangsiapa yang ingin berjumpa dengan Alloh besuk (hari kiamat) dalam keadaan muslim, maka hendaknya dia menjaga shalat fardhu dan memenuhi panggilannya, karena hal itu temasuk jalan-jalan petunjuk. Alloh telah mensyaratkan jalan-jalan petunjuk kepada nabi kalian. Seandainya kalian shalat di rumah kalian masing-masing sungguh kalian telah meninggalkan sunnah nabi kalian, niscaya kalian tersesat.
Sungguh tak seorangpun yang berwudzu dengan sempurna lalu pergi ke masjid kecuali Alloh akan menulis atas setiap langkahnya satu kebaikan, mengangkat satu derajat dan menghapus satu dosa.   Sungguh saya berpendapat bahwa tidak ada yang meninggalkannya (shalat berjamaah) kecuali orang munafik yang sangat nyata atau orang yang sakit. Sungguh ada seorang diantara kami yang datang dengan dipapah oleh dua orang lalu didirikan di shaf (Muslim: 654)
Ibnu Qoyyim menjelaskan, “Segi pendalilannya, Ibnu Mas’ud menggolongkan orang yang meninggalkan jamaah dalam koridor orang-orang munafiq yang nyata sedang tanda munafiq bukanlah dengan meninggalkan perkara sunnah atau melakukan yang makruh.” (Kitab Sholah hal. 146)
Beliau juga menukil atsar-atsar serupa dari sahabat lainya seperti Abu Musa Al-Asy’ari, Ali bin Abi Tholib, Abu Hurairah, Aisyah, Ibnu Abbas, lalu berkata, “inilah ucapan para sahabat –sebagaimana kamu lihat- shohih, masyhur dan menyebar. Tak ada seorangpun dari sahabat yang menyelisinya. Sungguh satu atsar saja sudah cukup sebagai dalil masalah ini (wajibnya shalat berjamaah), lantas bagaimana kiranya apabila dalil tersebut saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya?!!” (Kitab Sholah hal. 146)
Beliau juga menukil atsar-atsar serupa dari sahabat lainya seperti Abu Musa Al-Asy’ari, Ali bin Abu Tholib, Abu Hurairah, Aisyah, Ibnu Abbas, lalu berkata, “inilah ucapan para sahabat –sebagaimana engkau lihat- shahih dan menyebar. Tak ada seorangpun dari sahabat yang menyelisihinya. Sungguh satu atsar saja sudah cukup sebagai dalil masalah ini (waibnya shalat berjamaah) lantas bagaimana kiranya jika dalil tersebut menguatkan satu sama lainnya?! (Kitab Sholah hal. 153-154)
Walhasil shalat berjamaah hukumnya fardhu ain [6] berdasarkan argumen-argumen yang telah kami ketengahkan sebagiannya –dan masih banyak lagi lainnya-. Maka setelah jelas dalil-dalil tersebut diatas, sungguh tidak pantas seseorang untuk mengburkan masalah ini dengan ucapan yang sering kita dengar, “Masalah ini kan diperselisihkan para ulama, kenapa kita mesti ngotot. Bukankah kita harus toleran dan berlapang dada dalam masalah khilafiyah?! Kami katakan, “Kalimatul Haq urida biha bathil (Ucapan benar tap dimaksudkan untuk kebatilan” bukankah alasan di atas hanya untuk……………. Tahukah anda maksud mereka di balik itu?! Sesungguhnya mereka hanya ingin lari dari shalat berjamaah dan merasa sudah banyak pahala, tidakkah mereka membaca ayat Alloh,
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِى اْلأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ ذَلِكَ خَيْرُُ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً
 Hai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan ta’atilah Rasul Nya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An Nisa’: 59)
Yang perlu diketahui bahwasannya sekalipun para ulama berselisih tentang hukum shalat berjamaah, tetapi mereka sepakat bahwa, “Tidak ada rukhsah (keringanan) dalam meninggalkan jama’ah, baik kita katakan sunnah atau wajib/fardhu kifayah kecuali karena udzur umum atau khusus.” (Raudhah Tholibin I/344 oleh Imam Nawawi).

HIKMAH SHALAT BERJAMAAH

Syariat Islam mengandung hikmah yang tinggi dan menakjubkan, tidakada untaian kata yang dapat menerangkan dan akal yang bisa mengunggulinya. Bila kita mengetahui hikmah dari sebuah syari’at tertentu, kita akan semakinmantap sekalipun jika kita tidak mengetahuinya kita tetap wajib mematuhinya.
Diantara hikmah disyariatkannya shalat berjamaah;
1. Mengokohkan persaudaraan sesama muslim
  • Mereka saling mencintai antar sesama, karena kebersamaan dan berkumpulnya mereka di satu tempat, satu ibadah, satu imam.
  • Mereka akan saling mengenal, betapa banyak perkenalan dan persahabatan yang terjalin di masjid.
  • Mereka mempunyai perasaan sama dalam ibadah, tiada perbedaan antara si miskin dan si kaya, petinggi dan petani dan seterusnya.
  • mereka saling membantu dan mengetahui keadaan saudaranya yang fakir atau sakit kemudian berusaha memenuhi dan meringankannya.
2. Menampakkan syiar Islam dan izzah kaum muslimin. Karena syiar Islam yang paling utama adalah shalat. Seandainya kaum muslimin shalat di rumahnya masing-masing, mungkinkah syiar Islam akan tampak?! Sungguh dibalik keluar masuknya umat Islamke masjid terdapat izzah (kemuliaan/kejayaan) yang sangat dibenci musuh-musuh Islam[7].
3. Kesempatan menimba ilmu. Betapa banyak orang mendapat hidayah, ilmu dan cahaya lewat perantara shalat berjamaah.
4. Belajar disiplin (lihat syarh Mumti 4/135-137, Ibnu Utsaimin)

BEBERAPA MASALAH SEPUTAR SHALAT BERJAMAAH

A. Shalat berjamaah bagi wanita
Kaum wanita tidak wajib shalat berjamaah di masjid dengan kesepakatan ulama (Mausu’ah Ijma 2/622). Namun mereka boleh berjamaah di masjid dengan syarat tidak boleh bersolek/berdandan dan memakai parfum. Shalat di rumah lebih baik bagi mereka. (Lihat “Shalat Berjamaah Bagi Wanita “, Majalah AL FURQON Ed 6/II)
Dan disyari’atkan bagi sekumpulan wanita untuk menunaikan shalat secara berjama’ah baik di rumah, ma’had dll dengan kesepakatan ulama. (Al-Majmu 4/96 Nawawi. Al-Muhalla 3/171 Ibnu Hazm). Barangsiapa yang menyelisihi ini maka pendapatnya tertolak. (I’lam Muwaqqi’in 3/357, Ibnu Qoyyim).
Faedah: Posisi imam kaum wanita sesama mereka adalah di tengah-tengah makmum shaf pertamasebagaimana praktekUmmul mukminin Aisyah dan Ummu Salamah. (Lihat Al-Muhalla 3/171-172).
B. BERJAMAAH DI RUMAH?
Ketahuilah bahwa asal syariat shalat berjamaah adalah di masjid, tidak boleh meninggalkan masjid tanpa udzur(Ihkam Ahkam 2/114, Ibnu Daqiq). Ibnu Qoyyim berkata, “Barangsiapa yang mengkaji sunnah dengan seksama, niscaya akan jelas baginya bahwa jamaah di masjid adalah fardhu ain kecuali karena udzur, dengan demikian meninggalkan masjid tanpa udzur seperti halnya meninggalkan jama’ah.” (Kitab Sholah, 166)
C. BATAS MINIMAL SHALAT BERJAMAAH
Batas minimalnya dua orang, semakin banyak semakin utama. Hal ini merupakan kesepakatan ulama sebagaimana dinukil oleh Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni 2/177 dan Ibnu hubairah dalam al Ifshah I/155.
D. UDZUR TIDAK BERJAMAAH
“Tidak ada rukhsah (keringanan) untuk meninggalkan jamaah, baik kita katakan sunnah atau fardhu kifayah kecuali karena udzur umum atau khusus.” (Raudhah Thalibin I/344 Nawawi).
Contoh udzur umum seperti hujan deras, baik siang atau malam, angin kencang sekali dan udara dingin yang sangat. Para ulama talah bersepakat tentang bolehnya. (Tharhu Tatsrib 2/317, Al-Iraqi)
Contoh udzur secara khusus seperti; sakit parah, takut terhadap dirinya , harta dan kehormatannya. Hal ini tidak ada perselisihan tentang bolehnya. ( Al-Mushanaf  I/351). Contoh lainnya, menahan berak/kencing, dan masih banyak lagi lainnya. Imam Suyuti berkata, “Udzur tidak shalat berjamaah ada empat puluh jenis.” (Al-Asybah wa Nadhoir Hal. 439-440)
E. BOLEHKAH MENINGGALKAN JAMA’AH KARENA KEMUNGKARAN MASJID/IMAM
Sebagian orang terkadang meninggalkan jamaah dengan alasan karena masjid di kampungnya terdapat bid’ah seperti sholawatan/dzikir jama’ah atau semisalnya, maka perlu diketahui bahwa alasan tersebut tidak menghalangi shalat berjamaah. Lihat fatawa Lajnah Daimah 7/305)
Ada juga yang beralasan karena imam shalatnya terjerumus dalam kemaksiatan, dosa dan bid’ah (yang tidakmengkafirkan), maka inipun alasan yang tidak dibenarkan, bahkan sebagaimana kata Hasan Al-bashri ketika ditanya tentang hukum shalat di belakang ahli bid’ah, beliau menjawab, “Shalatlah dan dosa bid’ahnya dia yang menanggungnya.”
Tetapi jika ada masjid/imam yang utama maka itu lebih utama.
F. BERJAMAAH DI BELAKANG TV/RADIO
Termasuk Kebid’ahan modern yang dimunculkan orang-orang pemalas. Perbuatan ini jelas tidak boleh, baik bagi kaum pria maupun wanita, ada udzur maupun tidak sebagaimana fatwa lajnah Daimahno. 2437 tangggal 25/5/1399

PENUTUP

Setelah kita mengetahui bersama hakekat hukum shalat berjamaah, maka merupakan kewajiban bagi setiap untuk memperhatikan masalah ini dengan baik dan bersegera merealisasikannya serta mendakwahkannya kepada anak, keluarga, tetangga dan seluruh saudarnya sesama muslimin untuk menjalankan perintah Alloh dan Rasulullah n/ dan menghindarkan diri dari sifat kaum munafiqin yang telah disifati Alloh dengan sifat-sifat yang jelek , diantaranya adalah malas menjalankan shalat.   Alloh berfirman,
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَاقَامُوا إِلَى الصَّلاَةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَآءُونَ النَّاسَ وَلاَيَذْكُرُونَ اللهَ إِلاَّ قَلِيلاً
Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.(QS. An-Nisa’ 142)
Semoga Alloh memberi taufiq kepada kita semua. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz 12/18).
Penulis: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi

http://abiubaidah.com/shalat-berjamaah.html/


Footnote:
[1] Lihat secara luas Kitab Sohlah oleh Ibnu Qoyyim, beliau t/ telah memaparkan 13 dalil dengan pembahasan memuaskan sebagaimana biasanya.
[2] Sebagian ulama ada yang berpendapat abhwa ayat ini tidak menunjukkan wajibnya shalat berjamaah, diantaranya Syaikh Ibnu Utsaimin dalam tafsirnya 1/157. Ajaibnya beliau menyelisihi kedua gurunya As-Sa’di dalam tafsirnya I/59 dan Ibnu Baz dalam fatawanya 12/15. Ajaibnya lagi ketika penulis mengadu masalah ini kepada tiga masayikh kami (murid-murid Ibnu Utsaimin) yaitu Syaikh Abdur Rahman Ad-Dahsy, Syaikh Sami Ash-Shiggir dan Syaikh Khalid Al-Muslih. Pertama menegaskan bisa dijadikan hujjah, kedua menegaskan tidak bisa dijadikan hujjah ketiga mengatakan bisa tapi tidak secara jelas, namun hanya isyarat!!!
[3] Berkata iImam Nawawi dalam Majmu 4/86, “Pendapat ketiga: Fardhu ain tetapi bukan syrat sah shalat. Hal ini merupakan pendapat dua pakar madzhab Syafi’i  yang mapan dalam bidang fiqih dan hadits, yaitu Abu Bakar bin Khuzaimah, dan Ibnu Mudzir.”
[4] Imam Nawawi berkata, “Maksud orang buta di sini adalah Ibnu Ummi Maktum, sebagaimana ditafsurkan dalam riwayat Abu Dawud dan selainnya.” (Syarah Musli 5/157)
[5] “Bahkan jalannya abnyak pohon dan bebatuab sebagaimana dalam riwayat yang shahih. Apakah setelah ini dikatakan bahwa shalat berjamaah tidak wajib?” (Lihat Tamamul Minnah hal. 275 oleh Al-Albani.
[6] Pendapat inilah yang dikuatkan oleh para ulama sunnah abad ini, seperti Syaikh Ibnu Baz dalam fatawanya 12/14, Al Albani dalam Tamamul Minnah hal 275 dan Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Syarh Mumti’ 4/133.
[7] Di bulan Ramadhan , di hari-hari shalat tarawih, dimana kaum muslimin dan muslimat banyak berbondong-bondong ke masjid, sering kali hati penulis trennyuh dengan pemandangan tersebut dan berandai-andai, “Aduhai seandainya semua bulan seperti bulan Ramadhan.”

Advertisements

SHALAT

Makalah Fiqih Rukun-Rukun shalat

MAKALAH RUKUN-RUKUN DALAM SHOLAT Mata kuliah : Materi Fiqih Dosen pembimbing : Muhammad Sabli, S.Pd, M.Pd.I DI SUSUN OLEH : KETUA : Y U HA ZI ANGGOTA : 1. Atina Husna 2. Hendra 3. Riana 4. Hendriadi PROGRAM STARATA SATU ( S.1 ) SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) YASNI MUARA BUNGO TAHUN AKADEMIK 2012/2013 KATA PENGANTAR Penulisan makalah yang bersipat sederhana ini, di buat berdasarkan tugas kelompok yang di berikan oleh dosen pelajaran Materi Fiqih yang berjudul rukun-rukun dalam sholat. Dengan menucapkan syukur Alhamdulillah, kami semua dapat menyusun, menyesuaikan, serta dapat menyelesaikan sebuah makalah yang amat sederhana ini. Di samping itu, kami mengucapkan rasa terima kasih kepada semua pihak yan telah banyak membantu kami dalam menyelesaikan pembuatan sebuah makalah ini, baik dalam bentuk moril maupun dalam bentuk materi sehinggadapat terlaksana denan baik. Kami, sangat menyadari sepenuh nya bahwa makalah kami ini memang masih banyak terdapat kekurangan serta amat jauh dari kata kesempurnaan. Namun, kami semua telah berusaha semaksimal mungkin dalam membuat sebuah makalah ini. Di samping itu, kami sangat mengharapkan kritik serta saran nya dari semua rekan-rekan demi tercapai nya kesempurnaan yang di harapkan di masa akan datang. Rantau Embacang,16 oktober 2012 Penulis, Kelompok 6 DAFTAR ISI Kata pengantar…………………………………………………………………………….. Daftar isi…………………………………………………………………………………… BAB 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang……………………………………………………………. 1.2. Rumusan masalah…………………………………………………………. BAB 2. PEMBAHASAN 2.1. Pengertian sholat………………………………………………………….. 2.2. Rukun-rukun dalam sholat………………………………………………. BAB 3. PENUTUP 3.1. Kesimpulan………………………………………………………………… 3.2. Saran……………………………………………………………………….. Daftar pustaka……………………………………………………………………………… BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembuatan makalah yang amat sederhana ini di buat berdasarkan tugas kelompok yang di berikan oleh dosen pembimbing kami pada mata kuliah Materi fiqih yang berjudul Rukun-rukun dalam sholat . Maka, dengan adanya tugas kelompok ini. Kami akan mencoba menguraikan masalah rukun-rukun dalam sholat.namun, pada uraian kami tersebut mungkin masih banyak terdapat kesalahan, baik dalam pemahaman ataupun dalam penulisannya. Harapan kami, semoga apa yang telah semua kami lakukan bisa membuahkan hasil. Baik bagi pembaca maupun bagi pendengar. 1.2. Rumusan Masalah Sebelum kami membahas terlebih dahulu tentang rukun-rukun dalam sholat, maka ada baik nya kami rumuskan pokok-pokok permaslahannya yaitu sebagai berikut : 1. Sejauh manakah kita dapat memahami sholat serta rukun-rukun nya, dan 2. BAB 2 PEMBAHASAN 2.1. Pengertian sholat Sebelum kita membahas rukun-rukun dalam sholat, maka terlebih dahulu kita ketehui apa itu sholat. Asal makna sholat menurut bahasa ialah do’a, tetapi yang di maksud disini ialah ibadat yang tersusun dari beberapa perkataan dan perbuatan yang di mulai dengan takbir, dan di sudahi dengan salam, dan memenuhi beberapa rukun. 2.2. Rukun-rukun dalam sholat Dalam buku Fiqih Islam karangan H. SULAIMAN RASJID, rukun-rukun dalam sholat ada 13 yaitu : 1. Niat, Arti niat ada dua : a. Asal makna niat ialah “menyengaja” suatu perbuatan. Dengan adanya kesengajaan ini, perbuatan dinamakan ikhtijari . b. Niat pada syara ialah menyengaja suatu perbuatan karena mengikuti perintah Allah supaya diridhai-Nya. Inilah yang dinamakan ikhlas. Sabda Rasullullah Saw : “sesungguhnya amal perbuatan itu hendaklah dengan niat.” ( Riwayat Bukhari dan Muslim ) 2. Berdiri bagi orang yang kuasa, Orang yang tidak kuasa berdiri, boleh sholat sambil duduk, kalau tidak kuasa duduk, boleh berbaring, dan kalau tidak kuasa berbaring, boleh menelentang, kalau tidak kuasa juga demikian, sholatlah sekuasanya, sekalipun dengan isyarat. Yang penting, sholat tidak boleh ditinggalkan selama iman masih ada. Orang yang diatas kendaraan, kalau takut jatuh atau mabuk, ia boleh duduk. 3. Takbirotul ikhram , Takbirotul ikhram yaitu membaca Allahu akbar. Seperti lafaz ; 4. Membaca surat Al-Fatihah, Sabda Rasullullah Saw : “tiadalah sholat bagi seseorang yang tidak membaca surat AL-Fatihah.” ( riwayat Bukhari ) “tidaklah sah sholat bagi seseorang yang tidak membaca surat AL-Fatihah.” ( riwayat Daruqutni ) 5. Rukuk serta toma-ninah, Sabda Rasullullah Saw : “ kemudian rukuklah engkau hingga engkau diam sebentar.” ( Riwayat Bukhari dan Muslim ) Adapun rukuk bagi orang yang berdiri sekurang-kurangnya adalah menunduk kira-kira dua telapak tangannya sampai kelutut, sedangkan yang baiknya betul-betul menunduk sampai datar/lurus tulang punggungnya dengan lehernya serta meletakkan dua telapak tangan kelutut. 6. I’tiidal serta toma-ninah, I’tidal artinya berdiri tegak kembali seperti posisi ketika membaca Al-fatihah. Sabda Rasullullah Saw : “kemudian bangkitlah engkau sehingga berdiri tegak untuk I’tidal.” ( Riwayat Bukhari dan Muslim ) 7. Sujud dua kali serta toma-ninah, Sabda Rasullullah Saw : “kemudian sujudlah engkau hingga diam sebentar untuk sujud, kemudian bangkitlah engkau hingga diam untuk duduk, kemudian sujudlah engkau hingga diam untuk sujud.” ( Riwayat Bukhari dan Muslim ) Sebagian ulama mengatakan bahwa sujud itu wajib dilakukan dengan tujuh anggota, dahi, dua telapak tangan, dua lutut, dan ujung jari dua kaki. Sabda Rasullullah Saw : “ saya disuruh supaya sujud dengan tujuh tulang, yaitu dahi, dua telapak tangan, dua lutut, dan ujung kedua kaki.” ( Riwayat Bukhari dan Muslim ) 8. Duduk di antara dua sujud serta toma-ninah, Sabda Rasullullah Saw : “kemudian sujudlah engkau hingga diam sebentar untuk sujud, kemudian bangkitlah engkau hingga diam untuk duduk, kemudian sujudlah engkau hingga diam untuk sujud.” ( Riwayat Bukhari dan Muslim ) 9. Duduk akhir, Untuk tasyahud akhir, 10. Membaca tasyahud akhir, 11. Membaca salawat atas Nabi Muhammad Saw, 12. Memberi salam yang pertama, dan 13. Menertibkan rukun.

Diposkan oleh di 07.35

TAYAMUM

Panduan Tata Cara Tayammum

Kategori: Fiqh dan Muamalah

32 Komentar // 27 Januari 2010

Segala puji hanya kembali dan milik Allah Tabaroka wa Ta’ala, hidup kita, mati kita hanya untuk menghambakan diri kita kepada  Dzat yang tidak membutuhkan sesuatu apapun dari hambanya. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulul Islam, Muhammad bin Abdillah shollallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga dan para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum.

Mungkin tidak jarang dari kita melihat sebagian dari saudara-saudara kita kalangan kaum muslimin yang masih asing dengan istilah tayammum atau pada sebagian lainnya hal ini tidak asing lagi akan tetapi belum mengetahui bagaimana tayammum yang Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam ajarkan serta yang diinginkan oleh syari’at kita. Maka penulis mengajak pembaca sekalian untuk meluangkan waktu barang 5 menit untuk bersama mempelajari hal ini sehingga ketika tiba waktunya untuk diamalkan sudah dapat beramal dengan ilmu.

Pengertian Tayammum

Kami mulai pembahasan ini dengan mengemukakan pengertian tayammum. Tayammum secara bahasa diartikan sebagai Al Qosdu (القَصْدُ) yang berarti maksud. Sedangkan secara istilah dalam syari’at adalah sebuah peribadatan kepada Allah berupa mengusap wajah dan kedua tangan dengan menggunakan sho’id yang bersih[1]. Sho’id adalah seluruh permukaan bumi yang dapat digunakan untuk bertayammum baik yang terdapat tanah di atasnya ataupun tidak[2].

Dalil Disyari’atkannya Tayammum

Tayammum disyari’atkan dalam islam berdasarkan dalil Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma’ (konsensus) kaum muslimin[3]. Adapun dalil dari Al Qur’an adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla,

وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ

“Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau berhubungan badan dengan perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan permukaan bumi yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu”. (QS. Al Maidah [5] : 6).

Adapun dalil dari As Sunnah adalah sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi was sallam dari sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman rodhiyallahu ‘anhu,

« وَجُعِلَتْ تُرْبَتُهَا لَنَا طَهُورًا إِذَا لَمْ نَجِدِ الْمَاءَ »

“Dijadikan bagi kami (ummat Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi was sallam ) permukaan bumi sebagai thohur/sesuatu yang digunakan untuk besuci[4] (tayammum) jika kami tidak menjumpai air”.[5]

Media yang dapat Digunakan untuk Tayammum

Media yang dapat digunakan untuk bertayammum adalah seluruh permukaan bumi yang bersih baik itu berupa pasir, bebatuan, tanah yang berair, lembab ataupun kering. Hal ini berdasarkan hadits Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam dari sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman rodhiyallahu ‘anhu di atas dan secara khusus,

جُعِلَتِ الأَرْضُ كُلُّهَا لِى وَلأُمَّتِى مَسْجِداً وَطَهُوراً

“Dijadikan (permukaan, pent.) bumi seluruhnya bagiku (Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam) dan ummatku sebagai tempat untuk sujud dan sesuatu yang digunakan untuk bersuci”.[6]

Jika ada orang yang mengatakan bukankah dalam sebuah hadits Hudzaifah ibnul Yaman[7] Nabi mengatakan tanah?! Maka kita katakan sebagaimana yang dikatakan oleh Ash Shon’ani rohimahullah, “Penyebutan sebagian anggota lafadz umum bukanlah pengkhususan”[8]. Hal ini merupakan pendapat Al Auzaa’i, Sufyan Ats Tsauri Imam Malik, Imam Abu Hanifah[9] demikian juga hal ini merupakan pendapat Al Amir Ashon’ani[10], Syaikh Al Albani[11], Syaikh Abullah Alu Bassaam[12]rohimahumullah-, Syaikh DR. Sholeh bin Fauzan Al Fauzan[13] dan Syaikh DR. Abdul Adzim bin Badawiy Al Kholafiy hafidzahumallah[14].

Keadaan yang  Dapat Menyebabkan Seseorang Bersuci  dengan Tayammum

Syaikh Dr. Sholeh bin Fauzan Al Fauzan hafidzahullah menyebutkan beberapa keadaan yang dapat menyebabkan seseorang bersuci dengan tayammum,

  • Jika tidak ada air baik dalam keadaan safar/dalam perjalanan ataupun tidak[15].
  • Terdapat air (dalam jumlah terbatas pent.) bersamaan dengan adanya kebutuhan lain yang memerlukan air tersebut semisal untuk minum dan memasak.
    • Adanya kekhawatiran jika bersuci dengan air akan membahayakan badan atau semakin lama sembuh dari sakit.
    • Ketidakmapuan menggunakan air untuk berwudhu dikarenakan sakit dan tidak mampu bergerak untuk mengambil air wudhu dan tidak adanya orang yang mampu membantu untuk berwudhu bersamaan dengan kekhawatiran habisnya waktu sholat.
    • Khawatir kedinginan jika bersuci dengan air dan tidak adanya yang dapat menghangatkan air tersebut.

Tata Cara Tayammum Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam

Tata cara tayammum Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam dijelaskan hadits ‘Ammar bin Yasir rodhiyallahu ‘anhu,

بَعَثَنِى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فِى حَاجَةٍ فَأَجْنَبْتُ ، فَلَمْ أَجِدِ الْمَاءَ ، فَتَمَرَّغْتُ فِى الصَّعِيدِ كَمَا تَمَرَّغُ الدَّابَّةُ ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكَ أَنْ تَصْنَعَ هَكَذَا » . فَضَرَبَ بِكَفِّهِ ضَرْبَةً عَلَى الأَرْضِ ثُمَّ نَفَضَهَا ، ثُمَّ مَسَحَ بِهَا ظَهْرَ كَفِّهِ بِشِمَالِهِ ، أَوْ ظَهْرَ شِمَالِهِ بِكَفِّهِ ، ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam mengutusku untuk suatu keperluan, kemudian aku mengalami junub dan aku tidak menemukan air. Maka aku berguling-guling di tanah sebagaimana layaknya hewan yang berguling-guling di tanah. Kemudian aku ceritakan hal tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam. Lantas beliau mengatakan, “Sesungguhnya cukuplah engkau melakukannya seperti ini”. Seraya beliau memukulkan telapak tangannya ke permukaan bumi sekali pukulan lalu meniupnya. Kemudian beliau mengusap punggung telapak tangan (kanan)nya dengan tangan kirinya dan mengusap punggung telapak tangan (kiri)nya dengan tangan kanannya, lalu beliau mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.[16]

Dan dalam salah satu lafadz riwayat Bukhori,

وَمَسَحَ وَجْهَهُ وَكَفَّيْهِ وَاحِدَةً

“Dan beliau mengusap wajahnya dan kedua telapak tangannya dengan sekali usapan”.

Berdasarkan hadits di atas kita dapat simpulkan bahwa tata cara tayammum beliau shallallahu ‘alaihi was sallam adalah sebagai berikut.

  • Memukulkan kedua telapak tangan ke permukaan bumi dengan sekali pukulan kemudian meniupnya.
  • Kemudian menyapu punggung telapak tangan kanan dengan tangan kiri dan sebaliknya.
  • Kemudian menyapu wajah dengan dua telapak tangan.
  • Semua usapan baik ketika mengusap telapak tangan dan wajah dilakukan sekali usapan saja.
  • Bagian tangan yang diusap adalah bagian telapak tangan sampai pergelangan tangan saja atau dengan kata lain tidak sampai siku seperti pada saat wudhu[17].
  • Tayammum dapat menghilangkan hadats besar semisal janabah, demikian juga untuk hadats kecil.
  • Tidak wajibnya urut/tertib dalam tayammum.

Pembatal Tayammum

Pembatal tayammum sebagaimana pembatal wudhu. Demikian juga tayammum tidak dibolehkan lagi apa bila telah ditemukan air bagi orang yang bertayammum karena ketidakadaan air dan telah adanya kemampuan menggunakan air atau tidak sakit lagi  bagi orang yang bertayammum karena ketidakmampuan menggunakan air[18]. Akan tetapi shalat atau ibadah lainnya[19] yang telah ia kerjakan sebelumnya sah dan tidak perlu mengulanginya. Hal ini berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu,

خَرَجَ رَجُلَانِ فِي سَفَرٍ ، فَحَضَرَتْ الصَّلَاةُ – وَلَيْسَ مَعَهُمَا مَاءٌ – فَتَيَمَّمَا صَعِيدًا طَيِّبًا ، فَصَلَّيَا ، ثُمَّ وَجَدَا الْمَاءَ فِي الْوَقْتِ ، فَأَعَادَ أَحَدُهُمَا الصَّلَاةَ وَالْوُضُوءَ ، وَلَمْ يُعِدْ الْآخَرُ ، ثُمَّ أَتَيَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَا ذَلِكَ لَهُ ، فَقَالَ لِلَّذِي لَمْ يُعِدْ : أَصَبْت السُّنَّةَ وَأَجْزَأَتْك صَلَاتُك وَقَالَ لِلْآخَرِ : لَك الْأَجْرُ مَرَّتَيْنِ

Dua orang lelaki keluar untuk safar. Kemudian tibalah waktu shalat dan tidak ada air di sekitar mereka. Kemudian keduanya bertayammum dengan permukaan bumi yang suci lalu keduanya shalat. Setelah itu keduanya menemukan air sedangkan saat itu masih dalam waktu yang dibolehkan shalat yang telah mereka kerjakan tadi. Lalu salah seorang dari mereka berwudhu dan mengulangi shalat sedangkan yang lainnya tidak mengulangi shalatnya. Keduanya lalu menemui Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam dan menceritakan yang mereka alami. Maka beliau shallallahu ‘alaihi was sallam mengatakan kepada orang yang tidak mengulang shalatnya, “Apa yang kamu lakukan telah sesuai dengan sunnah dan kamu telah mendapatkan pahala shalatmu”. Beliau mengatakan kepada yang mengulangi shalatnya,  “Untukmu dua pahala[20][21].

Juga hadits Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam dari sahabat Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu,

الصَّعِيدُ وُضُوءُ الْمُسْلِمِ ، وَإِنْ لَمْ يَجِدْ الْمَاءَ عَشْرَ سِنِينَ.فَإِذَا وَجَدَ الْمَاءَ فَلْيَتَّقِ اللَّهَ وَلْيُمِسَّهُ بَشَرَتَهُ

“Seluruh permukaan bumi (tayammum) merupakan wudhu bagi seluruh muslim jika ia tidak menemukan air selama sepuluh tahun (kiasan bukan pembatasan angka)[22], apabila ia telah menemukannya hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dan menggunakannya sebagai alat untuk besuci”.[23]

Di Antara Hikmah Disyari’atkannya Tayammum

Sebagai penutup kami sampaikan hikmah dan tujuan disyari’atkannya tayyamum adalah untuk menyucikan diri kita dan agar kita bersyukur dengan syari’at ini serta tidaklah sama sekali untuk  memberatkan kita, sebagaimana akhir firman Allah dalam surat Al Maidah ayat 6,

مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak menyucikan kamu dan menyempurnakan nikmatNya bagimu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al Maidah: 6).

Abul Faroj Ibnul Jauziy rohimahullah mengatakan ada empat penafsiran ahli tafsir tentang nikmat apa yang Allah maksudkan dalam ayat ini,

Pertama, nikmat berupa diampuninya dosa-dosa[24].

Kedua, nikmat berupa hidayah kepada iman, sempurnanya agama, ini merupakan pendapat Ibnu Zaid rohimahullah.

Ketiga, nikmat berupa keringanan untuk tayammum, ini merupakan pendapat Maqotil dan Sulaiman.

Keempat, nikmat berupa penjelasan hukum syari’at, ini merupakan pendapat sebagian ahli tafsir[25].

Demikianlah akhir tulisan ini mudah-mudahan menjadi tambahan ‘amal bagi penulis dan tambahan ilmu bagi pembaca sekalian. Allahumma Amiin.

Di waktu Dhuha, Ahad 12 Dzulhijjah 1430 H.

Penulis: Aditya Budiman

Muroja’ah: M.A. Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id


[1] Lihat Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’ oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rohimahullah hal. 231/I, terbitan Al Kitabul ‘Alimiy, Beirut, Lebanon.[2] Kami ringkas dengan penyesuaian redaksi dari Lisanul ‘Arob oleh Muhammad Al Mishriy rohimahullah hal. 251/III, terbitan Darush Shodir, Beirut, Lebanon.

[3] Sebagaimana dikatakan oleh An Nawawi Asy Syafi’i rohimahullah. [Lihat Al Minhaaj Syarh Shohih Muslim oleh An Nawawi rohimahullah hal. 279/IV cetakan Darul Ma’rifah, Beirut dengan tahqiq dari Syaikh Kholil Ma’mun Syihaa].

[4] Lihat Taudhihul Ahkam min Bulughil Maroom oleh Syaikh Abdullah Alu Bassaam rohimahullah hal. 412/I terbitan Maktabah Asaadiy, Mekkah, KSA.

[5] HR. Muslim no. 522.

[6] HR. Ahmad no. 22190, dinyatakan shohih lighoirihi oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam Ta’liq beliau untuk Musnad Imam Ahmad, terbitan Muasa’sah Qurthubah, Kairo, Mesir.

[7] Yang kami maksud adalah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,

« وَجُعِلَتْ تُرْبَتُهَا لَنَا طَهُورًا إِذَا لَمْ نَجِدِ الْمَاءَ »

Demikian juga hadits dari sahabat ‘Ali yang diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnadnya no. 774 dinyatakan Shohih oleh Syaikh Ahmad Syakir,

« وَجُعِلَ اَلتُّرَابُ لِي طَهُورًا »

[8] Lihat Subulus Salaam Al Mausulatu ilaa Bulughil Maroom oleh Al ‘Amir Ash Shon’ani rohimahullah hal. 354/I dengan tahqiq dari Syaikh Muhammad Shubhi Hasan Halaaq cetakan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh, KSA.

[9] Lihat Al Minhaaj Syarh Shohih Muslim hal. 280/IV.

[10] Lihat Subulus Salaam Al Mausulatu ilaa Bulughil Maroom hal. 351-352/I.

[11] Lihat Ats Tsamrul Mustathob fi Fiqhis Sunnah wal Kitaab oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rohimahullah hal. 31/I cetakan Ghiroos, Kuwait.

[12] Lihat Taudhihul Ahkam min Bulughil Maroom hal. 414/I.

[13] Lihat Al Mulakhoshul Fiqhiy hal. 38 oleh Syaikh DR. Sholeh bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan hafidzahullah cetakan Dar Ibnul Jauziy Riyadh.

[14] Lihat Al Wajiz fi Fiqhil Kitab was Sunnah oleh Syaikh DR. Abdul Adhim bin Badawiy Al Kholafiy hafidzahullah hal. 56 Dar Ibnu Rojab Kairo, Mesir.

[15] Asy Syaukani menambahkan keadaan yang dapat menyebabkan seseorang bersuci dengan tayammum dengan jauhnya air, kemudian beliau menambahkan batasan suatu jarak dikatakan tidak jauh dalam hal ini dengan adanya kemungkinan seseorang dapat mendapatkan air kemudian berwudhu dengannya dan dapat sholat pada waktunya. [lihat As Saylul Jaror oleh Asy Syaukani rohimahullah hal. 129/I, terbitan Darul Kutub ‘Ilmiyah, Beirut, Lebanon.] namun Syaikh Muhammad bin  Sholeh Al ‘Utsaimin mengatakan bahwa batasan dikatakan tidak jauh itu adalah urf/penilaian masyarakat [lihat Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’ hal. 235/I ].

Tambahan dari editor,

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, “….  Akan tetapi, mereka juga boleh cukup dengan tayamum jika memang harus memperoleh air yang tempatnya jauh. Mereka nanti bertayamum dan mengerjakan shalat di waktunya masing-masing. Namun yang lebih baik adalah melakukan jama’ suri seperti tadi dan tetap berwudhu dengan air, ini yang lebih afdhol (lebih utama). Walhamdulillah.”[ Majmu’ Al Fatawa, hal. 458/XXI.]

[16] HR. Bukhori no. 347, Muslim no. 368.

[17] Kami katakan demikian karena kemutlakan yang ada dalam ayat tayammum (وَأَيْدِيكُمْ ,”Dan sapulah tanganmu”. [QS. Al Maidah (5) : 6]) tidak bisa di dimuqoyyadkan dengan ayat wudhu (وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ, “Dan basuhlah tanganmu sampai dengan siku” [QS. Al Maidah (5) : 6]), karena hukum kedua masalah ini berbeda (yang satu masalah tayammum yang lainnya wudhu) walaupun sebabnya sama, hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rohimahullah dalam Syarh Nadzmul Waroqot hal. 123, terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh dan lihat juga Ma’alim Ushul Fiqh oleh Syaikh Muhammad Husain bin Hasan Al Jaizaniy, hal. 441,  terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh.

[18] Lihat Al Wajiz fi Fiqhil Kitab was Sunnah hal.56.

[19] Karena tayammum merupakan badal/pengganti dari wudhu. Sehingga apa yang dibolehkan dengan berwudhu dibolehkan juga dengan tayammum. [Lihat Subulus Salaam Al Mausulatu ilaa Bulughil Maroom hal. 360/I ].

[20] Yaitu satu pahala untuk sholat yang pertama dan satu pahala untuk sholat yang kedua. [Lihat Subulus Salaam Al Mausulatu ilaa Bulughil Maroom hal. 362/I, Taudhihul Ahkam min Bulughil Maroom hal. 426/I].

[21] HR. Abu Dawud no. 338, An Nasa’i no. 433. Dinyatakan shohih oleh Al Albani dalam Shohihul Jami’ no. 3861.

[22] Lihat Taudhihul Ahkam min Bulughil Maroom hal. 422/I.

[23] HR. Ahmad no. 21408, Tirmidzi no. 124, Abu Dawud no. 333, An Nasa’i no. 420, dan lain-lain. Hadits ini dinyatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dan dinyatakan shohih lighoirihi oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth.

[24] Dalil tentang hal ini hadits Humroon tentang wudhunya Utsman bin Affan rodhiyallahu ‘anhu.

[25] Lihat Zaadul Masiir hal. 108, Asy Syamilah.

Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di muslim.or.id dengan menyertakan muslim.or.id sebagai sumber artikel

Dari artikel ‘Panduan Tata Cara Tayammum — Muslim.Or.Id

MANDI

Home » Dasar-Dasar Islam » Fiqih Islam » Fiqih Ahkam » Fiqih Thaharah: Hukum Haidh, Nifas, dan Jinabat, serta Mandi
Fiqih Thaharah: Hukum Haidh, Nifas, dan Jinabat, serta Mandi

Rubrik: Fiqih Ahkam | Oleh: Tim Kajian Manhaj Tarbiyah – 28/09/11 | 08:30 | 29 Shawwal 1432 H

0 Komentar
7557 hits
Email 5 email

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Kajian ini masih dalam topik pembahasan Fiqih thaharah. Kali ini yang akan dibahas adalah mengenai Haidh, Nifas, Jinabat, dan mengenai mandi. Selamat menyimak.

A. Haidh, Nifas dan Jinabat

Haidh: adalah darah yang keluar dari wanita dalam keadaan sehat, minimal sehari semalam menurut Syafi’iyyah, dan tiga hari menurut mazhab Hanafi. Umumnya tujuh hari, dan maksimal sepuluh hari menurut mazhab Hanafi, dan lima belas hari menurut mazhab Syafi’iy. Jika darah itu berlanjut melebihi batas maksimal disebut darah ISTIHADHAH.
Nifas: yaitu darah yang keluar dari wanita setelah melahirkan. Minimal tidak ada batasnya, dan maksimal empat puluh hari sesuai dengan hadits Ummu Salamah: Para wanita yang nifas pada zaman Rasulullah saw menunggu empat puluh hari. HR Al Khamsah, kecuali An Nasa’iy.
Jinabat: Seseorang menjadi junub karena berhubungan seksual, atau karena keluar sperma dalam kondisi tidur maupun melek/terjaga.
Hukum wanita haidh dan nifas bahwa mereka tidak berpuasa dan wajib qadha hari Ramadhan yang ditinggalkan; tidak wajib shalat dan tidak wajib qadha shalat yang ditinggalkan; diharamkan baginya dan suaminya berhubungan seksual; tidak diperbolehkan juga baginya dan orang yang junub melakukan thawaf; menyentuh mushaf, membawanya, membaca Al Qur’an kecuali yang sudah menjadi doa atau basmalah; tidak boleh juga berada di masjid; sebagaimana diharamkan pula atas orang yang junub melakukan shalat bukan puasa.

B. Mandi

Mandi adalah mengalirkan air suci mensucikan ke seluruh tubuh. Dasar hukumnya adalah firman Allah:

“… dan jika kamu junub maka mandilah” (QS Al Maidah: 6)

1. Penyebab Wajib Mandi

Keluar mani disertai syahwat pada waktu tidur maupun terjaga, oleh laki-laki maupun wanita, seperti hadits Rasulullah SAW: الماء من الماء “air itu dari air” (HR Muslim). Hal ini disepakati oleh tiga imam mazhab. Berdasarkan hadits ini maka keluar mani tanpa disertai syahwat, seperti karena sakit, kedinginan, kelelahan, dsb tidak mewajibkan mandi. Asy Syafi’i menyaratkan kewajiban mandi karena keluar mani, oleh sebab apapun meskipun tanpa syahwat.
Hubungan seksual, meskipun tidak keluar mani, karena sabda Rasulullah SAW: “Ketika sudah duduk dengan empat kaki, kemudian khitan bertemu khitan, maka wajib mandi” (HR Ahmad, Muslim dan At Tirmidzi).
Selesai haidh dan nifas bagi wanita. Karena firman Allah: “…. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu.” (QS. Al Baqarah: 222)
Mayit muslim, wajib dimandikan oleh yang hidup, karena sabda Nabi: “…mandikanlah dengan air dan daun bidara.” (Muttafaq alaih), kecuali syahid di medan perang.
Orang kafir ketika masuk Islam, karena hadits Qais bin Ashim bahwasanya ia masuk Islam, lalu Rasulullah menyuruhnya agar mandi dengan air dan daun bidara. HR Al Khamsah kecuali Ibnu Majah.

2. Mandi Sunnah

Seorang muslim disunnahkan mandi dalam keadaan berikut ini:

Hari Jum’at, karena sabda Nabi: “Jika datang kepada salah seorang di antaramu hari Jum’at maka hendaklah mandi.” (HR Al Jama’ah), disunnahkan mandinya sebelum berangkat shalat Jum’at
Mandi untuk shalat Idul Fitri dan Idul Adha, hukumnya sunnah menurut para ulama
Mandi karena selesai memandikan jenazah, sesuai sabda Nabi: “Barang siapa yang selesai memandikan hendaklah ia mandi.” (HR Ahmad dan Ashabussunan).
Mandi ihram bagi yang hendak menunaikan haji atau umrah, seperti dalam hadits Zaid bin Tsabit bahwasanya Rasulullah SAW melepaskan bajunya untuk ihram dan mandi. (HR Ad Daruquthniy Al Baihaqi dan At Tirmidziy yang menganggapnya hasan)
Masuk untuk memasuki kota Mekah. Rasulullah SAW melakukannya seperti yang disebutkan dalam hadits shahih, demikian juga mandi untuk wukuf di Arafah.

3. Rukun Mandi

Niat, karena hadits Nabi: Sesungguhnya amal itu dengan niat. Dan juga untuk membedakannya dari kebiasaan, dan tidak disyaratkan melafalkannya, karena tempatnya ada di hati.
Membasuh seluruh tubuh, karena firman Allah: “… (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.” (QS. An Nisa: 43). Dan hakikat mandi adalah meratakan air ke seluruh tubuh.
Mazhab Hanafi menambahkan rukun ketiga yaitu: berkumur, menghisap air ke hidung, yang keduanya sunnah menurut imam lainnya.

4. Sunnah Mandi

Membaca basmalah
Membersihkan najis fisik jika ada
Berwudhu (berkumur dan menghisap air ke hidung)
Mengulanginya tiga kali dalam setiap membasuh organ tubuh dan memulainya dari kanan lalu kiri
Meratakan air, mensela-sela jari, rambut, membersihkan ketiak, lubang hidung dan pusar.
Menggosok dan terus menerus tidak terputus basuhannya

5. Cara Mandi

Dari Aisyah dan Maimunah RA: bahwasanya Rasulullah saw jika mandi junub – mau mandi – memulai dengan mencuci dua tangannya dua atau tiga kali, kemudian menuangkan air dari kanan ke kiri, lalu membersihkan kemaluannya, lalu berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat, kemudian mengambil air dan dimasukkan ke pangkal rambut, kemudian membasuh kepalanya tiga guyuran sepenuh tangannya, kemudian mengguyurkan air ke seluruh badan, lalu membasuh kakinya (Muttafaq alaih).

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/09/14948/fiqih-thaharah-hukum-haidh-nifas-dan-jinabat-serta-mandi/#ixzz2OvJ6gJLh
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

WUDHU

Panduan Praktis Tata Cara Wudhu

Kategori: Fiqh dan Muamalah

54 Komentar // 12 Januari 2010

Segala puji hanya kembali dan milik Allah Tabaroka wa Ta’ala, hidup kita, mati kita hanya untuk menghambakan diri kita kepada Dzat yang tidak membutuhkan sesuatu apapun dari hambanya. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, Muhammad bin Abdillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, beserta keluarga dan para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum.

Kedudukan wudhu dalam sholat

Wudhu merupakan suatu hal yang tiada asing bagi setiap muslim, sejak kecil ia telah mengetahuinya bahkan telah mengamalkannya. Akan tetapi apakah wudhu yang telah kita lakukan selama bertahun-tahun atau bahkan telah puluhan tahun itu telah benar sesuai dengan apa yang diajarkan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam? Karena suatu hal yang telah menjadi konsekwensi dari dua kalimat syahadat bahwa ibadah harus ikhlas mengharapkan ridho Allah dan sesuai sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam. Demikian juga telah masyhur bagi kita bahwa wudhu merupakan syarat sah sholat[1], yang mana jika syarat tidak terpenuhi maka tidak akan teranggap/terlaksana apa yang kita inginkan dari syarat tersebut. Sebagaimana sabda Nabi yang mulia, Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam,

« لاَ تُقْبَلُ صَلاَةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ »

Tidak diterima sholat orang yang berhadats sampai ia berwudhu.[2]

Demikian juga dalam juga Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan kepada kita dalam KitabNya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki”. (QS Al Maidah [5] : 6).

Maka marilah duduk bersama kami barang sejenak untuk mempelajari shifat/tata cara wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam.

Pengertian wudhu

Secara bahasa wudhu berarti husnu/keindahan dan nadhofah/kebersihan, wudhu untuk sholat dikatakan sebagai wudhu karena ia membersihkan anggota wudhu dan memperindahnya[3]. Sedangkan pengertian menurut istilah dalam syari’at, wudhu adalah peribadatan kepada Allah ‘azza wa jalla dengan mencuci empat anggota wudhu[4] dengan tata cara tertentu. Jika pengertian ini telah dipahami maka kita akan mulai pembahasan tentang syarat, hal-hal wajib dan sunnah dalam wudhu secara ringkas.

Tata Cara Wudhu secara Global

Adapun tata cara wudhu secara ringkas berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam dari Humroon budak sahabat Utsman bin Affan rodhiyallahu ‘anhu[5],

عَنْ حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ أَنَّهُ رَأَى عُثْمَانَ دَعَا بِوَضُوءٍ ، فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ مِنْ إِنَائِهِ ، فَغَسَلَهُمَا ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ، ثُمَّ أَدْخَلَ يَمِينَهُ فِى الْوَضُوءِ ، ثُمَّ تَمَضْمَضَ ، وَاسْتَنْشَقَ ، وَاسْتَنْثَرَ ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا وَيَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ ثَلاَثًا ، ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ ، ثُمَّ غَسَلَ كُلَّ رِجْلٍ ثَلاَثًا ، ثُمَّ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يَتَوَضَّأُ نَحْوَ وُضُوئِى هَذَا وَقَالَ « مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِى هَذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ، لاَ يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ ، غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Dari Humroon -bekas budak Utsman bin Affan, suatu ketika ‘Utsman memintanya untuk membawakan air wudhu (dengan wadahpent.), kemudian ia tuangkan air dari wadah tersebut ke kedua tangannya. Maka ia membasuh kedua tangannya sebanyak tiga kali, lalu ia memasukkan tangan kanannya ke dalam air wudhu kemudian berkumur-kumur, lalu beristinsyaq dan beristintsar. Lalu beliau membasuh wajahnya sebanyak tiga kali, (kemudian) membasuh kedua tangannya sampai siku sebanyak tiga kali kemudian menyapu kepalanya (sekali sajapent.) kemudian membasuh kedua kakinya sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengatakan, “Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam berwudhu dengan wudhu yang semisal ini dan beliau shallallahu ‘alaihi was sallam mengatakan, “Barangsiapa yang berwudhu dengan wudhu semisal ini kemudian sholat 2 roka’at (dengan khusyuked.)dan ia tidak berbicara di antara wudhu dan sholatnya[6] maka Allah akan ampuni dosa-dosanya yang telah lalu”[7].

Dari hadits yang mulia ini dan beberapa hadits yang lain dapat kita simpulkan tata cara wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam secara ringkas sebagai berikut[8],

  1. Berniat wudhu (dalam hati) untuk menghilangkan hadats.
  2. Mengucapkan basmalah (bacaan bismillah).
  3. Membasuh dua telapak tangan sebanyak 3 kali.
  4. Mengambil air dengan tangan kanan kemudian memasukkannya ke dalam mulut dan hidung untuk berkumur-kumur dan istinsyaq (memasukkan air dalam hidung). Kemudian beristintsar (mengeluarkan air dari hidung) dengan tangan kiri sebanyak 3 kali.
  5. Membasuh seluruh wajah dan menyela-nyelai jenggot sebanyak 3 kali.
  6. Membasuh tangan kanan hingga siku bersamaan dengan menyela-nyelai jemari sebanyak 3 kali kemudian dilanjutkan dengan yang kiri.
  7. Menyapu seluruh kepala dengan cara mengusap dari depan ditarik ke belakang, lalu ditarik lagi ke depan, dilakukan sebanyak 1 kali, dilanjutkan menyapu bagian luar dan dalam telinga sebanyak 1 kali.
  8. Membasuh kaki kanan hingga mata kaki bersamaan dengan menyela-nyelai jemari sebanyak 3 kali kemudian dilanjutkan dengan kaki kiri.

Syarat-Syarat Wudhu[9]

Syaikh Dr. Sholeh bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan hafidzahullah menyebutkan syarat wudhu ada tujuh[10], yaitu

  • Islam,
  • Berakal,
  • Tamyiz[11],
  • Berniat[12], (letak niat ini ketika hendak akan melakukan ibadah tersebut[13],pent.)
  • Air yang digunakan adalah air yang bersih dan bukan air yang diperoleh dengan cara yang haram,
  • Telah beristinja’[14] & istijmar[15] lebih dulu (jika sebelumnya memiliki keharusan untuk istinja’ dan istijmar dari hadats),
  • Tidak adanya sesuatu hal yang mencegah air sampai ke kulit.

Kami tidak menyebutkan dalil tentang hal di atas karena kami menganggap hal ini telah ma’ruf dikalangan kaum muslimin.

Wajib Wudhu

  • Membaca bismillah ketika hendak wudhu, sebagaimana sabda Nabi kita shallallahu ‘alaihi was sallam,

« لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ وُضُوءَ لَهُ وَلاَ وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى عَلَيْهِ »

“Tidak ada sholat bagi orang yang tidak berwudhu, dan tidak ada wudhu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah Ta’ala (bismillah) ketika hendak berwudhu”.[16]

  • Membasuh wajah, termasuk dalam membasuh wajah adalah berkumur-kumur, istinsyaq dan istintsar[17]. Para ‘ulama mengatakan batasan bagian wajah yang dibasuh adalah mulai dari atas ujung dahi (awal tempat tumbuhnya rambut) sampai bagian bawah jenggot dan batas kiri kanan adalah telinga[*][18].

Adapun yang dimaksud dengan istinsyaq adalah sebagaimana yang dikatakan Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqolaniy rohimahullah, “Memasukkan air ke hidung dengan menghisapnya sampai ke ujungnya, sedangkan istintsar adalah kebalikannya”[19]. Dalil tentang hal ini sebagaimana yang firman Allah ‘azza wa jalla,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah wajah”. (QS Al Maidah [5] : 6).

Sebagaimana dalam ilmu ushul fiqh[20] perintah dalam perkara ibadah memberikan konsekwensi wajib. Maka membasuh wajah dalam wudhu adalah wajib. Sedangkan dalil yang menunjukkan wajibnya berkumur-kumur, istinsyaq dan istintsar adalah ayat di atas yang memerintahkan kita untuk membasuh wajah, sedangkan mulut dan hidung merupakan bagian dari wajah. Demikian juga hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,

« إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَنْشِقْ بِمَنْخِرَيْهِ مِنَ الْمَاءِ ثُمَّ لْيَنْتَثِرْ »

“Jika salah seorang dari kalian hendak berwudhu maka beristinsyaqlah di hidungnya dengan air kemudian beristintsarlah”.[21]

Dalil khusus dalam masalah kumur-kumur adalah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,

« إِذَا تَوَضَّأْتَ فَمَضْمِضْ »

“Jika engkau hendak wudhu, maka berkumur-kumurlah”[22].

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rohimahullah mengatakan, “Cara berkumur-kumur, istinsyaq dan istintsar dilakukan bersamaan (satu kali jalan), maka setengah air digunakan untuk berkumur-kumur dan sisanya untuk istinsyaq dan istintsar”.[23]

  • Menyela-nyelai jenggot, dalil tentang hal ini adalah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam dari sahabat Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu,

كَانَ إِذَا تَوَضَّأَ أَخَذَ كَفًّا مِنْ مَاءٍ فَأَدْخَلَهُ تَحْتَ حَنَكِهِ فَخَلَّلَ بِهِ لِحْيَتَهُ

وَقَالَ « هَكَذَا أَمَرَنِى رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ »

“Merupakan kebiasaan (Nabi shallallahu ‘alaihi was sallampent. ) jika beliau akan berwudhu, beliau mengambil segenggaman air kemudian beliau basuhkan (ke wajahnyapent) sampai ketenggorokannya kemudian beliau menyela-nyelai jenggotnya”. Kemudian beliau mengatakan, “Demikianlah cara berwudhu yang diperintahkan Robbku kepadaku[24].

Dan cara menyela-nyelai jenggot adalah sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam di atas yaitu dengan menyela-nyelainya bersamaan dengan membasuh wajah[25].

  • Membasuh kedua tangan sampai siku, dalilnya adalah firman Allah ‘azza wa jalla,

إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ

“Apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku”. (QS Al Maidah [5] : 6).

Demikian juga hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,

« ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْمَرْفِقِ ثَلاَثًا ، ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُسْرَى إِلَى الْمَرْفِقِ ثَلاَثًا »

“Kemudian beliau membasuh tangannya yang kanan sampai siku sebanyak tiga kali, kemudian membasuh tangannya yang kiri sampai siku sebanyak tiga kali”[26].

  • Menyapu[27] kepala dengan air, kedua telinga termasuk dalam bagian kepala[28]. Dalilnya adalah firman Allah ‘azza wa jalla,

وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ

“Dan sapulah kepalamu”. (QS Al Maidah [5] : 6).

Perintah dalam ayat ini menunjukkan hukum menyapu kepala adalah wajib bahkan hal ini diklaim ijma’ oleh An Nawawi Asy Syafi’i rohimahullah[29]. Demikian juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,

« ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ بِيَدَيْهِ ، فَأَقْبَلَ بِهِمَا وَأَدْبَرَ ، بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ ، حَتَّى ذَهَبَ بِهِمَا إِلَى قَفَاهُ ، ثُمَّ رَدَّهُمَا إِلَى الْمَكَانِ الَّذِى بَدَأَ مِنْهُ »

“Kemudian beliau membasuh mengusap kepala dengan tangannya,(dengan carapent.) menyapunya ke depan dan ke belakang. Beliau memulainya dari bagian depan kepalanya ditarik ke belakang sampai ke tengkuk kemudian mengembalikannya lagi ke bagian depan kepalanya”[30].

Hadits ini menunjukkan bagaimana cara mengusap kepala[31] yang Allah perintahkan dalam surat Al Maidah ayat 6 di atas. Demikian juga hadits ini juga dalil bahwa yang bagian kepala yang dihusap dalam ayat di atas adalah seluruh kepala/rambut[32] dan inilah pendapat Al Imam Malik rohimahullah demikian juga hal ini merupakan pendapat Al Imam Al Bukhori rohimahullah sebagaimana dalam kitab shahihnya. Jadi mengusap kepala bukanlah hanya sebagian (hanya ubun-ubun) sebagaimana anggapan sebagian orang. Sedangkan dalil bahwa menyapu kedua telinga termasuk dalam menyapu kepala adalah sabda Nabi ’alaihish sholatu was salam,

« الأُذُنَانِ مِنَ الرَّأْسِ »

“Kedua telinga merupakan bagian dari kepala”.[33]

Lalu cara menyapu kedua telinga adalah sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,

« ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ وَأُذُنَيْهِ بَاطِنِهِمَا بِالسَّبَّاحَتَيْنِ وَظَاهِرِهِمَا بِإِبْهَامَيْهِ »

“kemudian beliau menyapu kedua telinga sisi dalamnya dengan dua telunjuknya dan sisi luarnya dengan kedua jempolnya”.[34]

Adapun untuk cara mengusap kepala dan kedua telinga dengan air, untuk perempuan sama seperti untuk laki-laki sebagaimana yang dikatakan oleh An Nawawi Asy Syafi’i rohimahullah demikian juga hal ini merupakan pendapat Imam Syafi’i rohimahullah sendiri dan dinukil oleh Al Bukhori rohimahullah dalam kitab shohihnya dari Sa’id bin Musayyib rohimahullah [35].

  • Membasuh kedua kaki hingga mata kaki. Dalil hal ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“(basuh) kaki-kaki kalian sampai dengan kedua mata kaki”.

(QS Al Maidah [5] : 6).

Demikian juga hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,

« ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ »

“Kemudian beliau membasuh kedua kakinya hingga dua mata kaki”[36].

Membasuh kedua mata kaki hukumnya wajib karena Allah sebutkan dengan lafadz/bentuk perintah, dan hukum asal perintah dalam masalah ibadah adalah wajib. Adapun cara membasuhnya adalah sebagaimana yang disabdakan beliau alaihish sholatu was salam,

« إِذَا تَوَضَّأَ دَلَكَ أَصَابِعَ رِجْلَيْهِ بِخِنْصَرِهِ »

“Jika beliau shallallahu ‘alaihi was sallam berwudhu, beliau menggosok jari-jari kedua kakinya dengan dengan jari kelingkingnya[37].

Demikian juga pendapat Al Ghozali rohimahullah, namun beliau qiyaskan dengan cara istinja’, sebagaimana yang dinukilkan oleh Al ‘Amir Ash Shon’ani rohimahullah[38].

  • Muwalah

Muwalah[39] adalah berturut-turut dalam membasuh anggota-anggota wudhu dalam artian membasuh anggota wudhu lainnya sebelum anggota wudhu (yang sebelumnya telah dibasuh pent.) mengering dalam kondisi/waktu normal[40].

Dalil wajibnya hal ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku”. (QS Al Maidah [5] : 6).

Sisi pendalilannya sebagai berikut, jawab syarat (dari kalimat syarat yang ada dalam ayat inipent.) merupakan suatu yang berurutan dan tidak boleh diakhirkan[41]. Adapun dalil dari Sunnah adalah Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam berwudhu dengan tidak memisahkan membasuh anggota wudhu (yang satu dengan yang lainnyapent.) dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam yang diriwayatkan dari sahabat Umar bin Khottob rodhiyallahu ‘anhu

أَنَّ رَجُلاً تَوَضَّأَ فَتَرَكَ مَوْضِعَ ظُفُرٍ عَلَى قَدَمِهِ فَأَبْصَرَهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « ارْجِعْ فَأَحْسِنْ وُضُوءَكَ ». فَرَجَعَ ثُمَّ صَلَّى

“Bahwasanya ada seorang laki-laki berwudhu dan meninggalkan bagian yang belum dibasuh sebesar kuku pada kakinya. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam melihatnya maka Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam mengatakan, “Kembalilah (berwudhupent.) perbaguslah wudhumu”.[42]

Hal ini merupakan pendapat Imam Syafi’i dalam perkataannya yang lama, serta pendapat Al Imam Ahmad dalam riwayat yang masyhur dar beliau[43].

Sunnah Wudhu

  • Bersiwak[44], hal sebagaimana dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,

« لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِى لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلاَةٍ »

“Seandainya jika tidak memberatkan ummatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak pada setiap hendak berwudhu”[45].

  • Mencuci kedua tangan tiga kali ketika hendak berwudhu, sunnah ini lebih ditekankan ketika bangun dari tidur atau dengan kata lain hukumnya wajib. Dalil yang menunjukkan bahwa mencuci tangan ketika hendak berwudhu sunnah adalah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,

عَنْ حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ أَنَّهُ رَأَى عُثْمَانَ دَعَا بِوَضُوءٍ ، فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ مِنْ إِنَائِهِ ، فَغَسَلَهُمَا ثَلاَثَ مَرَّاتٍ….. ثُمَّ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يَتَوَضَّأُ نَحْوَ وُضُوئِى هَذَا

Dari Humroon budaknya Utsman bin Affan, (ketika ia menjadi budaknya Utsmanpent.) suatu ketika beliau memintanya untuk membawakan air wudhu (dengan wadahpent.), kemudian aku tuangkan air dari wadah tersebut ke kedua tangan beliau. Maka ia membasuh tangannya sebanyak tiga kali……kemudian beliau berkata, “Aku dahulu melihat Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam berwudhu dengan wudhu seperti yang aku peragakan ini”[46].

Hal ini ditetapkan sebagai sunnah dan bukan wajib sebab Utsman rodhiyallahu ‘anhu melakukannya karena melihat Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam melakukannya. Semata-mata perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam yang dicontoh para sahabat menunjukkan hukum anjuran atau sunnah[47]. Kemudian dalil yang menunjukkan wajibnya mencuci tangan ketika bangun dari tidur adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,

«وَإِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلْيَغْسِلْ يَدَهُ قَبْلَ أَنْ يُدْخِلَهَا فِى وَضُوئِهِ ، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لاَ يَدْرِى أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ »

Jika salah seorang dari kalian bangun dari tidurnya maka hendaklah ia mencuci tangannya sebelum ia memasukkan tangannya ke air wudhu, karena ia tidak tahu di mana tangannya bermalam”.

Jika ada yang bertanya apakah hal ini hanya berlaku pada tidur di malam hari saja atau umum? Maka jawabannya adalah sebagaimana yang disampaikan Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam di atas yaitu semua tidur yang menyebabkan orang tidak tahu di mana tangannya berada ketika ia tidur. Dan inilah pendapat yang dipilih oleh Al Imam Asy Syafi’i rohimahullah, demikian juga mayoritas ‘ulama[48].

  • Bersungguh-sungguh dalam beristinsyaq dan berkumur-kumur ketika tidak sedang berpuasa[49]. Dalilnya adalah sabda Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam,

« بَالِغْ فِى الاِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُونَ صَائِمًا »

“Bersungguh-sungguhlah dalam beristinsyaq kecuali jika kalian sedang berpuasa”[50].

  • Mendahulukan membasuh anggota wudhu yang kanan. Dalilnya adalah sabda Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam,

« كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَيُحِبُّ التَّيَمُّنَ فِى طُهُورِهِ إِذَا تَطَهَّرَ »

“Adalah kebiasaan Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam sangat menyukai mendahulukan kanan dalam thoharoh (berwudhupent.)”[51].

  • Membasuh anggota wudhu sebanyak 2 kali atau 3 kali. Dalil bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam membasuh anggota wudhunya 2 kali adalah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Zaid,

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – تَوَضَّأَ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam berwudhu (membasuh anggota wudhunya sebanyakpent.) dua kali-dua kali.[52]

Dalil bahwa beliau membasuh anggota wudhu sebanyak tiga kali adalah hadits yang diriwayatkan Humroon dari tentang wudhu Utsman bin Affan rodhiyallahu ‘anhu ketika melihat cara wudhu Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam,

عَنْ حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ أَنَّهُ رَأَى عُثْمَانَ دَعَا بِوَضُوءٍ ، فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ مِنْ إِنَائِهِ ، فَغَسَلَهُمَا ثَلاَثَ مَرَّاتٍ…. ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا…

Dari Humroon budaknya Utsman bin Affan, (ketika ia menjadi budaknya Utsmanpent.) suatu ketika beliau memintanya untuk membawakan air wudhu (dengan wadahpent.), kemudian aku tuangkan air dari wadah tersebut ke tangan beliau. Maka ia membasuh tangannya sebanyak 3 kalikemudian dia membasuh wajahnya sebanyak 3 kali….[53]

Hal ini sering beliau lakukan pada anggota wudhu selain pada mengusap kepala, berdasarkan salah satu riwayat hadits Abdullah bin Zaid rodhiyallahu ‘anhu di atas yang juga dalam shohihain,

ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَمَسَحَ رَأْسَهُ ، فَأَقْبَلَ بِهِمَا وَأَدْبَرَ مَرَّةً وَاحِدَةً

“Kemudian beliau memasukkan tangannya ke dalam wadah air lalu menyapu kepalanya ke arah depan dan belakang sebanyak 1 kali”[54].

Namun demikian dianjurkan juga menyapu kepala sebanyak tiga kali[55], namun hal ini dianjurkan dengan catatan tidak dilakukan terus menerus berdasarkan salah satu riwayat hadits yang diriwayatkan Humroon tentang cara wudhu Utsman bin Affan rodhiyallahu ‘anhu ketika beliau melihat cara wudhu Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam,

وَمَسَحَ رَأْسَهُ ثَلاَثًا ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ ثَلاَثًا ثُمَّ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- تَوَضَّأَ هَكَذَا

Beliau (Utsman bin Affan pent.)menyapu kepalanya tiga kali kemudian membasuh kakinya tiga kali, kemudian beliau berkata, “Aku melihat Rosulullah shallallahu ‘alaihi was sallam berwudhu dengan wudhu seperti ini”[56].

  • Tertib, yang dimaksud tertib di sini adalah membasuh anggota wudhu sesuai tempatnya (urutan yang ada dalam ayat wudhupent.)[57]. Hal ini kami cantumkan di sini sebagai sebuah sunnah bukan wajib dalam wudhu dengan alasan hadits Al Miqdam bin Ma’dikarib Al Kindiy rodhiyallahu ‘anhu,

أُتِىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلاَثًا ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ ثَلاَثًا وَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا ثُمَّ غَسَلَ ذِرَاعَيْهِ ثَلاَثًا ثَلاَثًا ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ وَأُذُنَيْهِ ظَاهِرِهِمَا وَبَاطِنِهِمَا

“Rosulullah shallallahu ‘alaihi was sallam melakukan wudhu dengan membasuh tangannya tiga kali kemudian berkumur-kumur dan istinsyaq tiga kali, kemudian membasuh wajahnya tiga kali, kemudian membasuh kakinya tiga kali, kemudian menyapu kepalanya dan telinga bagian luar maupun dalam”[58].

  • Berdo’a ketika telah selesai berwudhu. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,

« مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ – أَوْ فَيُسْبِغُ – الْوُضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ إِلاَّ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ ».

“Tidaklah salah seorang dari kalian berwudhu dan ia menyempurnakan wudhunya kemudian membaca, “Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah” melainkan akan dibukakan baginya pintu-pintu surga yang jumlahnya delapan, dan dia bisa masuk dari pintu mana saja ia mau”[59].

At Tirmidzi menambahkan lafafdz,

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِى مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termsuk orang-orang yang selalu mensucikan diri”[60].

  • Sholat dua raka’at setelah wudhu. Hal ini berdasarkan hadits Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam,

« مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِى هَذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ، لاَ يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ ، غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ »

“Barangsiapa berwudhu sebagaimana wudhuku ini, kemudian sholat 2 raka’at (dengan khusyuked.) setelahnya dan ia tidak berbicara di antara keduanya[61], maka akan diampuni seluruh dosanya yang telah lalu”[62].

Demikianlah akhir tulisan ini, mudah-mudahan bermanfaat bagi kami sebagai tambahan ‘amal dan sebagai tambahan ilmu bagi pembaca sekalian serta berbuah ‘amal bagi kita semua. Allahu a’lam bish showab

Ketika rintik-rintik hujan membasahi ranah pogung, 1 Dzul Hijjah 1430 H

Penulis: Aditya Budiman

Muroja’ah: M. A. Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id


[1] Bahkan hal ini diklaim ijma’oleh An Nawawi rohimahullah [lihat Al Minhaaj Syarh Shohih Muslim oleh An Nawawi rohimahullah hal. 98/III cetakan Darul Ma’rifah, Beirut dengan tahqiq dari Syaikh Kholil Ma’mun Syihaa][2] HR. Bukhori no. 135, Muslim no. 225.

[3] Lihat Al Minhaaj Syarh Shohih Muslim oleh An Nawawi rohimahullah hal. 95/III. Hal senada juga dikatakan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqolaniy rohimahullah dalam Fathul Baari hal. 214/I.

[4] Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rohimahullah mengatakan, “Penyebut empat anggota wudhu dalam hal ini hanyalah maksudnya adalah penyebutan sebagian namum yang diinginkan adalah seluruh anggota wudhu”. [lihat Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’ hal. 110/I, terbitan Al Kitabul ‘Alimiy, Beirut, Lebanon.]Atau bisa kita katakan sebagai majas part pro toto dalam istilah bahasa Indonesia.

[5] Hadits ini merupakan salah satu hadits pokok dalam masalah tata cara wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam.

[6] Akan datang penjelasannya insya Allah.

[7] HR. Bukhori no. 159,Muslim no. 226.

[8] Lihat Shohih Fiqhis Sunnah oleh Abu Maalik Kamaal bin Sayyid Salim hal. 111/I, terbitan Maktabah Tauqifiyah.

[9] Kami menempuh cara menulis seperti ini (membedakan mana perkara yang sunnah dan wajib) bukanlah berarti tidak ingin meniru wudhu Nabi secara menyeluruh akan tetapi agar ‘amal kita bisa memiliki nilai tambah jika berhadapan dua hal yang sama-sama baik, misalnya hal yang wajib dan sunnah ataupun 2 hal yang sunnah namun salah satu lebih ditekankan. Allahu A’lam.

[10] Lihat Al Mulakhoshul Fiqhiy hal. 24 oleh Syaikh DR. Sholeh bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan hafidzahullah cetakan Dar Ibnul Jauziy Riyadh.

[11] Tolak ukur tamyiz adalah sebagaimana yang dikatakan Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam adalah berumur 7 tahun dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 495 dan dinyatakan hasan shohih oleh Al Albani rohimahullah dalam takhrij beliau untuk Sunan Abu Dawud.

[12] Yang kami maksudkan dengan niat adalah azam/keinginan yang ada dalam hati untuk berwuhu karena ingin melaksanakan perintah Allah dan RosullNya shallallahu ‘alaihi was sallam, Ibnu Taimiyah rohimahullah mengatakan, “Niat dalam seluruh ibadah tempatnya di hati bukan di lisan dan hal ini telah disepakati para ‘ulama kaum muslimin, semisal dalam ibadah thoharoh, sholat, zakat, puasa, haji, membebaskan budak, jihad, dan lain-lain. Seandainya ada seorang yang melafadzkan niat dan hal itu berbeda dengan niat yang ada dalam hatinya maka yang menjadi tolak ukur berpahala atau tidaknya amal adalah niat yang ada dalam hatinya bukan yang ada di lisannya”.[lihat Al Fatawatul Qubro oleh Ibnu Taimiyah, dengan tahqiq Husnain Muhammad Makhluf hal. 87/II, terbitan Darul Ma’rifah, Beirut Lebanon]. yang senada juga dikatakan oleh Al Imam An Nawawi Asy Syafi’i rohimahullah lihat Qowaid wa Fawaid minal ‘Arbain An Nawawiyah oleh Syaikh Nadzim Muhammad Shulthon hal. 30 cetakan Darul Hijroh, Riyadh, KSA demikian juga beliau isyaratkan dalam Kitabnya At Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an hal. 50 dengan tahqiq dari Syaikh Abu Abdillah Ahmad bin Ibrohim Abul ‘Ainain cetakan Maktabah Ibnu Abbas Kairo, Mesir. Mudah-mudahan dengan penjelasan ringkas ini pembaca bisa memahami defenisi niat yang benar.

[13] Lihat Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’ hal. 127/I

[14] Membersihkan sesuatu yang keluar dari dua jalur kemaluan dengan air. [lihat Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’ hal. 69/I ]

[15] Membersihkan sesuatu yang keluar dari dua jalur kemaluan dengan tiga buah batu atau dengan selainnya [lihat Manjaahus Salikin oleh Syaikh Abdurrohman bin Nashir As Sa’diy rohimahullah hal. 38 cetakan Darul Wathon, Riyadh, KSA].

[16] HR. Ibnu Hibban no. 399, At Tirmidzi no. 26, Abu Dawud no. 101, Al Hakim no. 7000, Ad Daruquthni no. 232. Hadits ini dinilai shohih oleh Al Albani rohimahullah dalam Shohihul Jami’ no. 7514, bahkan Syaikh Abu Ishaq Al Huwainiy membuat satu juz (kitab yang khusus membahas satu hadits) dan beliau menshohihkan hadits ini. Akan tetapi status hadits ini diperselisihkan para ulama di antara yang mendhoifkannya ‘Ali bin Abu Bakr Al Haitsami rohimahullah dalam Majmu’ Az Zawaid hal. 780/IX terbitan Darul Fikr, Beirut dan penulis Shohih Fiqhis Sunnah dalam takhrij beliau untuk hadits ini.

[17] Lihat Al Wajiz fi Fiqhil Kitab was Sunnah oleh Syaikh DR. Abdul Adzim bin Badawiy Al Kholafiy hafidzahullah hal. 38 Dar Ibnu Rojab Kairo, Mesir.

[18] Lihat Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’ hal. 131-132/I, dan tambahan dari Shohih Fiqhis Sunnah hal. 113/I.

[19] Lihat Fathul Baari hal. 78/X.

[20] Lihat Mandzumah Ushulil Fiqh wa Qowa’idih oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rohimahullah hal. 103 cetakan Dar Ibnul Jauziy Riyadh,KSA.

[21] HR. Muslim no. 237.

[22] HR. Abu Dawud no. 144, hadits ini dinyatakan shohih oleh Al Albani dalam takhrij Beliau untuk Sunan Abu Dawud.

[23] Lihat Ats Tsamrul Mustathob fi Fiqhis Sunnah wal Kitaab oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rohimahullah hal. 10/I cetakan Ghiroos, Kuwait.

[24] HR. Abu Dawud no. 145, Al Baihaqi no. 250 dinyatakan shohih oleh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil no. 92.

[25] Lihat tanda [*] dalam tulisan ini.

[26] HR. Bukhori no. 1832 dan Muslim no. 226.

[27] Perbedaan antara menghapus/menyapu dan membasuh adalah bahwa pada menghapus/menyapu tidak ada mengalirkan air ke tempat yang akan dihapus namun cukup dengan membasahi tangan dengan air dan menyapukan tangan tersebut ke kepala. [Lihat Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’ hal. 116/I.]

[28] Lihat Al Wajiz fi Fiqhil Kitab was Sunnah oleh Syaikh DR. Abdul Adzim bin Badawiy Al Kholafiy hafidzahullah hal. 38 Dar Ibnu Rojab Kairo, Mesir.

[29] Lihat Al Minhaaj Syarh Shohih Muslim oleh An Nawawi rohimahullah hal. 102/III.

[30] HR. Bukhori no. 185, Muslim 235.

[31] Namun merupakan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam juga membasuhnya dari arah belakang ke depan. Sebagaimana akan kami cantumkan haditsnya dalam pokok bahasan Membasuh anggota wudhu sebanyak 2 kali atau 3 kali dalam tulisan ini insya Allah ta’ala.

[32] Lihat penjelasan masalah ini di Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’ hal. 117/I.

[33] HR. Abu Dawud no.134, At Tirmidzi no. 37, Ibnu Majah no. 478, dan lain-lain. Hadits ini dinyatakan shohih oleh Al Albani rahmatullah ‘alaihi dalam Ash Shohihah no. 36. Lihat juga penjelasan tentang takhrij hadits ini dalam Subulus Salaam Al Mausulatu ilaa Bulughil Maroom oleh Al ‘Amir Ash Shon’ani rohimahullah hal. 206/I dengan tahqiq dari Syaikh Muhammad Shubhi Hasan Halaaq cetakan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh, KSA. Di sini muhaqqiq kitab ini menjelaskan panjang lebar tentang hadits ini yang kesimpulannya hadits ini shohih.

[34] HR. An Nasa’i no. 102, dinyatakan hasan shohih oleh Al Albani dalam takhrij beliau untuk Sunan Nasa’i.

[35] [lihat Al Majmu’ oleh An Nawawi rohimahullah hal. 409/I Asy Syamilah]. Dan hal ini sesuai dengan kaidah fiqh keumuman hukum dalam syari’at antara laki-laki dan perempuan selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya pada salah satu dari keduanya, [lihat Ma’alim Ushulil Fiqh ‘inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah oleh Syaikh DR. Muhammad bin Husain bin Hasan Al Jaizaniy hafidzahullah hal. 418, cetakan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh, KSA].

[36] HR. Bukhori no. 185, Muslim no. 235.

[37] HR. Tirmidzi no. 40, Abu Dawud no. 148, hadits ini dinyatakan shohih oleh Al Albani dalam takhrij beliau untuk Sunan At Tirmidzi.

[38] Lihat Subulus Salaam Al Mausulatu ilaa Bulughil Maroom oleh Al ‘Amir Ash Shon’ani rohimahullah hal. 196/I dengan tahqiq dari Syaikh Muhammad Shubhi Hasan Halaaq cetakan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh, KSA.

[39] Lihat Shohih Fiqhis Sunnah hal. 121/I.

[40] Dalam kondisi/waktu normal maksudnya adalah jika tidak ada angin yang berhembus, dalam kondisi cuaca yang sangat panas (sehingga air wudhu dengan cepat mengering), atau sangat dingin. [lihat Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’ hal. 120/I.]

[41] Lihat Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’ hal. 119/I.

[42] HR. Mulsim no. 243.

[43] Lihat dari Shohih Fiqhis Sunnah hal. 121/I.

[44] Al Amir Ash Shon’ani rohimahullah mengatakan, “Siwak yang dimaksud dalam istilah para ulama adalah penggunaan potongan kayu atau selainnya pada gigi untuk menghilangkan kotoran kuning pada mulut”. [Lihat Subulus Salaam Al Mausulatu ilaa Bulughil Maroom hal. 175/I].

[45] HR. Tirmidzi no. 22, Abu Dawud no. 37, dinilai shohih oleh Al Albani dalam takhrij beliau untuk Sunan At Tirmidzi.

[46] HR. Bukhori no. 159,Muslim no. 226.

[47] Lihat Ma’alim Ushulil Fiqh ‘inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah hal. 124.

[48] Lihat Taudhihul Ahkaam min Bulughil Maroom oleh Syaikh Abullah Alu Bassaam rohimahullah hal. 215/I cetakan Maktabah Sawaadiy, Mekkah, KSA.

[49] Lihat penjelasan mengapa perintah di sini tidak dimaknai wajib di Taudhihul Ahkaam min Bulughil Maroom hal. 218/I.

[50] HR. Abu Dawud no. 2368, Al Hakim no. 525 dinyatakan shohih oleh Al Albani dalam takhrij beliau untuk Sunan Abu Dawud demikian juga Adz Dzahabi.

[51] HR. Bukhori 168, Muslim no. 268.

[52] HR. Bukhori 158.

[53] HR. Bukhori 164, Muslim no. 226.

[54] HR. Bukhori 186.

[55] Pendapat inilah yang dipilih oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rohimahullah di Ats Tsamrul Mustathob fi Fiqhis Sunnah wal Kitaab hal.11/I, demikian juga Syaikh DR. Abdul Adzim bin Badawiy Al Kholafiy hafidzahullah Al Wajiz fi Fiqhil Kitab was Sunnah hal. 41.

[56] HR. Abu Dawud no. 107 dan dinyatakan hasan shohih oleh Al Albani rohimahullah dalam takhrij beliau untuk Sunan Abu Dawud.

[57] Lihat Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’ hal. 118/I.

[58] HR. Abu Dawud no. 121, dinyatakan shohih oleh Al Albani rohimahullah dalam takhrij beliau untuk Sunan Abu Dawud.

[59] HR. Muslim no. 234.

[60] HR. Tirmidzi no. 55 dan dinyatakan shohih oleh Al Albani dalam takhrij beliau untuk Sunan Tirmidzi.

[61] An Nawawi rohimahullah mengatakan, “yang dimaksud dengan tidak berbicara diantara keduanya yaitu tidak berbicara dalam masalah dunia yang tidak ada hubungannya dengan sholat”. [lihat Al Minhaaj Syarh Shohih Muslim hal. 103/III]

[62] HR. Bukhori no. 159, Muslim no. 226.

Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di muslim.or.id dengan menyertakan muslim.or.id sebagai sumber artikel

ISTINJA’

Permasalahan Istinja’ dan Istijmar

Publikasi: Kamis, 2 Zulhijjah 1433 H / 18 Oktober 2012 07:47 WIB

istijmar dan istinjaBab Ketiga – Terkait dengan Menunaikan Hajat dan Adabnya, dan Masalahnya

Kajian fiqih ibadah kita yang diambil dari Kitab Fiqhul Muyassar fii Dhow’il Kitabi was Sunnah, karya sekumpulan ulama. Kita masuk ke Al Bab Ats-Tsaalits, halaman 25.

Kita masuk ke bab ketiga, terkait dengan buang hajat. Kalau disini dikatakan ‘Menunaikan Hajat’. Karena hajat adalah kebutuhan, tidak mungkin dibuang tapi ditunaikan. Pembahasan kita terkait dengan adab-adabnya dan di dalam pembahasan ini juga ada beberapa permasalahan.

Masalah pertama: Istinja’, ‘Istijmar, dan Melakukan Salah Satu dari Keduanya dan Mengakhirkan Yang Lain.

Al Istinja’ adalah menghilangkan bekas-bekas yang keluar dari salah satu dari dua jalan dengan air. Sedangkan Al Istijmar adalah mengusapnya dengan sesuatu yang bersih dan dibolehkan, seperti batu dan sebagainya.

Jadi berbeda antara istinja’ dengan istijmar. Kalau istinja’, tujuannya adalah membasuh habis. Sedangkan istijmar hanya menyekanya saja. Salah satu di antara keduanya boleh digunakan karena jelas ada hadits dari Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Anas ra, “Rasulullah SAW masuk ke dalam toilet. Saya dan salah seorang budak lain membawa bejana berisikan air dan ‘anzah . ‘Anzah ini adalah alat yang bersih. namun Rasulullah SAW memilih untuk beristinja’ dengan air.” (HR. Muslim)

Dari ‘Aisyah ra bahwa Nabi SAW bersabda, “Jika salah seorang dari kamu pergi buang air, maka hendaklah ia beristijmar minimal dengan tiga buah batu. Maka itu sudah cukup.” (HR. Ahmad dan Ad Daroqothni).

Jika dikerjakan keduanya, maka lebih afdhol. Jadi kalau dikerjakan keduanya, istinja’ dan istijmar, maka lebih afdhol.

Kita ini kan mengikuti mazhab Syafi’i, dan mazhab beliau ini ketat. Kita berpikir jika hanya dengan batu, apakah selesai persoalan? Makanya mazhab Imam Syafi’i ini berkembang di daerah yang banyak air. Kenapa di Pakistan tidak ada mazhab Syafi’i, atau di Aljazair misalnya. Karena akan sulit bagi mereka, dibandingkan dengan kita. Kalau kita, hidup di daerah yang banyak air, maka itu terus berkembang mazhab Syafi’i.

Istijmar ini sah atau cukup dikerjakan dengan batu atau apa saja yang menyerupai batu dan bersih, yang dibolehkan seperti sapu tangan, daun atau kertas, kayu, dan lain-lain. Nabi SAW ketika beristijmar menggunakan batu. Gabungkanlah dengan apa saja yang bisa membersihkan. Tidak cukup istijmar, jika kurang dari tiga kali sapuan.]

Jadi kesimpulannya, istijmar jangan kurang dari tiga benda. Kalau batu, tiga batu. Kalau kayu, tiga kayu. Dan menggunakan yang bersih dan membersihkan, boleh daun atau kertas.

Masalah Kedua: Menghadap dan Membelakangi Qiblat ketika Menunaikan Hajat.

Tidak boleh menghadap atau membelakangi qiblat ketika menunaikan hajat di padang pasir yang tidak ada batas. Jadi kalau di dalam toilet atau tempat yang tertutup, ini tidak masalah. Yang dilarang itu jika pada tempat yang terbuka.

Hadits dari Abu Ayyub Al Anshori ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika kamu pergi menunaikan hajat, maka jangan menghadap qiblat atau membelakanginya, akan tetapi arahkan ke timur atau ke barat.” Abu Ayyub mengatakan, “Kami pergi ke Syam dan kami menemukan toilet-toilet dibangun menghadap ke arah Ka’bah. Lalu kami memalingkan badan kami dan memohon ampun kepada Allah.” (Muttafaqun ‘alaih).

Menghadap ke timur atau ke barat, ini karena Rasulullah SAW tinggal di Madinah. Akan berbeda dengan kita yang hidup di Indonesia. Karena kalau kita menghadap ke timur atau ke barat, kita malah menghadap ke arah Ka’bah.

Nah, bisa kita lihat disini, negara Syam sudah sejak jaman dahulu merupakan negara maju, karena sudah ada toilet-toilet umum disana ketika itu.

Adapun jika ia dibangun dalam suatu bangunan, atau ada yang membatasinya dengan qiblat, maka tidak masalah. Hadits dari Ibnu Umar ra, “Sesungguhnya aku pernah melihat Rasulullah SAW buang air kecil dirumahnya menghadap ke Syam dan membelakangi Ka’bah.” (Muttafaqun ‘alaih).

Dan juga hadits dari Marwan Al Ashghar ra, “Suatu ketika Ibnu Umar ra menjadikan kudanya sebagai penghalang kepada qiblat, dan duduk dibelakangnya. Lalu aku bertanya, ‘Wahai Abu Abdurrahman, bukankah dilarang menunaikan hajat menghadap qiblat seperti ini?’ Ia menjawab, ‘Betul, tapi dilarangnya di tempat yang lapang, tapi kalau ada yang membatasi antara kamu dengan qiblat, itu tidak masalah’.” (HR. Abu Daud, Ad Daroqothni, Al Hakim). Tapi yang afdhol meninggalkan menghadap atau membelakangi qiblat kendatipun kita berada dalam bangunan. Wallahu a’lam.

Jadi Ibnu Umar ra melakukan hal ini, dan ini tidak masalah karena ia menjadi kudanya sebagai penghalang antara dirinya dan qiblat. Luar biasa Islam menjaga adab-adab ini.

Masalah Ketiga: Apa-apa Saja Yang Disunnahkan Ketika Masuk ke Dalam Toilet.

Disunnahkan bagi mereka yang hendak memasuki toilet, untuk membaca “Bismillah, Allahuma inni ‘audzubika minal khubuts wal khoba’its.

Apa yang dimaksud dengan ‘khubuts wal khoba’its’? ‘Khubuts’ itu setan, dan ‘khoba’its’ adalah bentuk jamaknya. Lalu setelah kita selesai dan keluar dari toilet, “Ghufronaka.”

Perhatikan disini, dilakukan setelah kita keluar, bukan ketika kita masih di dalam kamar mandi. Dan juga mendahulukan kaki kiri ketika masuk dan mendahulukan kaki kanan ketika keluar. Dan jangan ia membuka auratnya sampai ia mendekat ke tempat menunaikan hajat.

Jadi membuka auratnya ketika kita benar-benar mau menunaikan hajat itu. Inilah sunnahnya. Kalau ia terpaksa menunaikan hajat di tempat yang terbuka, disunnahkan ia menjauh dan menutup dirinya sehingga ia tidak terlihat. Dalil yang menjelaskan itu semua adalah hadits dari Jabir ra, “Kami keluar bersama Rasulullah SAW dalam satu perjalanan, maka Rasulullah SAW tidak mendatangi tempat membuat kotoran sampai beliau tidak terlihat.” (HR. Ibnu Daud dan Ibnu Majah).

Dan hadits dari Ali ra, Rasulullah SAW bersabda, “Penutup antara jin dan bani Adam, ketika ia memasuki kamar mandi adalah dengan membaca ‘bismillah’.” (HR. Ibnu Majah, Tirmidzi, dihasankan oleh Ahmad, dan dishahihkan oleh Al Albani).

Kalau kita tidak membaca basmalah, jin itu mengikuti kita sehingga kita tidak tertutup dari mereka.

Hadits dari Anas ra, “Jika hendak memasuki kamar mandi, ucapkanlah: ‘Bismillah, Allahuma inni ‘audzubika minal khubuts wal khoba’its.’” (Muttafaqun ‘alaih)

Hadits dari ‘Aisyah ra, Rasulullah SAW setiap keluar dari kamar mandi mengucapkan, ‘Ghufronaka’. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi dengan sanad hasan ghorib. Al Albani menghasankan.)

Dan hadits dari Ibnu Umar ra, bahwa Nabi SAW setiap hendak menunaikan hajat tidak mengangkat pakaiannya sampai dekat sekali dengan bumi. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)]

Maksudnya di sini Rasulullah SAW jongkok terlebih dahulu baru kemudian mengangkat pakaiannya.

Masalah Keempat: Apa Yang Diharamkan Ketika Menunaikan Hajat

Diharamkan membuang air kecil di air yang tidak mengalir atau tergenang. Hadits dari Jabir ra, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya dilarang membuang air kecil di air yang tidak mengalir.” (Muttafaqun ‘alaih).

Tidak boleh memegang kemaluan dengan tangan kanan ketika buang air, tidak boleh juga beristinja’ dengan tangan kanan. Disabdakan oleh Rasulullah SAW, “Jika salah seorang dari kamu buang air kecil, janganlah memegang kemaluan dengan tangan kanan dan jangan juga beristinja’ dengannya.” (Muttafaqun ‘alaih).

Diharamkan juga buang air kecil dan buang air besar di jalan, di tempat orang bernaung, di tempat-tempat umum, atau di bawah pohon yang berbuah, atau di sumber-sumber air. Sabda Rasulullah SAW, “Hindari dirimu pada tiga tempat yang dilaknat ini, buang kotoran di sumber air, di jalan, dan termpat bernaung.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah, dengan sanad hasan). Hadits dari Abu Huroiroh ra, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Hindarilah dua perkara?’, lalu aku bertanya: ‘Apa dua perkara itu ya Rasulullah?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Di jalan tempat lewat manusia, atau tempat mereka berteduh.’” (HR. Muslim).

Diharamkan juga membaca Al Qur’an. Dan diharamkan juga beristijmar dengan kotoran, tulang atau makanan yang bersih dan dihormati. Sebuah hadits dari Jabir ra, “Dilarang untuk beristinja’ dengan tulang dan kambing.” (HR. Muslim).

Di Damaskus itu, diyakini kubur Khalid bin Walid ra ada disitu. Saya pernah kesana. Orang Syi’ah itu datang dari Iran ke situ untuk mengencingi kuburan itu.

Masalah Kelima: Yang Dimakruhkan

Dimakruhkan ketika menunaikan hajat mengarah ke tiupan angin agar tidak kembali lagi. Dimakruhkan bicara. Ada orang yang datang ketika Rasulullah SAW sedang di kamar mandi, ia memberikan salam tapi Rasulullah tidak menjawab. (HR. Muslim).

Dimakruhkan buang air di tempat-tempat yang berlubang, ada hadits dari Qatadah ra, Nabi SAW melarang untuk buang air di tempat yang berlubang. Qatadah bertanya apa yang membuat lubang itu dilarang. Rasulullah SAW menjawab karena itu tempat tinggal jin. (HR. Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Hajar). Begitu juga tidak ada jaminan untuk aman dari hewan yang ada didalamnya atau tempat tinggal jin yang bisa menyakiti mereka.

Dimakruhkan membawa ke dalam kamar mandi, sesuatu barang yang tertera nama Allah diatasnya kecuali karena terpaksa. Karena Rasulullah SAW setiap hendak masuk kamar mandi selalu melepaskan cincin beliau. (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah).

Cincin Rasulullah tertulis nama Allah, yaitu Muhammadar Rasulullah, yang digunakan sebagai stempel beliau. Kalau terpaksa, maka tidak masalah. Seperti misalnya tulisan nama Allah yang tertera di atas mata uang yang kita miliki, sebab jika ia tinggal di luar bisa saja ia lupa atau dicuri orang. Adapun mushaf Al Qur’an, diharamkan untuk membawanya masuk ke dalam kamar mandi baik secara tegas maupun secara tersembunyi. Dia adalah Kalamullah dan kalam yang paling mulia, dan membawanya masuk ke dalam toilet merupakan penghinaan terhadap Allah SWT.

Makanya kalau ada handphone yang didalamnya ada software Al Qur’an, matikan. Minimal dimatikan. Karena kalau masih dihidupkan, masih ada Al Qur’an-nya. Tapi kalau dimatikan, dia akan hilang dari rupa mushaf. Terkadang kita sering lupa. Nah, untuk lebih mudah lagi, kita bisa menggunakan Al Qur’an yang online jika di handphone. Karena kalau yang online, ketika sedang tidak online artinya di handphone tidak ada mushaf Al Qur’an. Sementara kita juga perlu ada Al Qur’an di dalam handphone kita.

Itu adab-adab yang masya Allah jika kita amalkan, luar biasa. Mungkin terlihat kecil, tapi dari hal-hal yang seperti inilah kita merasakan rahmatnya Islam itu. Ketika kita tinggal di tempat yang airnya banyak, maka kita beristinja’. Bisa juga ketika kita tinggal di tempat yang airnya sedikit, padahal kita tidak tahu takdir menentukan kita tinggal dimana. Bisa saja kita suatu saat ditakdirkan untuk tinggal di tempat yang sulit air. Atau misalnya di Sukabumi saat musim kemarau, disana agak sulit air. Maka kita bisa beristijmar.

Karena kalau kita pikirkan, air lebih penting untuk berwudhu’ atau lebih penting untuk minum? Tentu kita pentingkan untuk minum, lalu untuk sholat kita bertayamum saja. Karena untuk minum kita tidak bisa ganti dengan yang lain. Sedangkan wudhu’ bisa diganti dengan tayamum.

Maka itu, pola berpikir efektif dan skala prioritas, sudah diajarkan Islam melalui ibadah seperti ini. Jadi ketika kita me-manage kehidupan, jadi kecil persoalannya. Kita ini terbalik. Ketika bicara kehidupan seakan kita ingin efisien dan efektif, tapi ketika bicara ibadah berbeda. Harusnya dimulai dari ibadah. Luar biasa. Jika suatu saat Allah takdirkan kering daerah tempat tinggal kita, kita masih memiliki solusi dengan tayamum atau dengan istijmar.

Demikian jama’ah sekalian. Semoga Allah SWT senantiasa memudahkan langkah kita untuk mencari ilmu, dengan demikian Allah memudahkan langkah kita ke surga. Silahkan jika ada pertanyaan, baik untuk materi yang pertama maupun untuk materi yang kedua, atau untuk masalah kehidupan.

Wallahu ta’ala a’lam.

NAJIS

Sabtu, 13 Desember 2008

Fiqih; Najasaat (2/2)

Najis almukhtalafiha / yang berbeda pendapat1. Anjing.
Pendapat mazhab Abu Hanafi, anjing tidak najis seluruhnya, karena ada hadist yang memperbolehkan orang berburu dengan anjing yang hanya menangkap buruannya saja, buruannya menjadi tidak najis, anjing juga dibolehkan menjadikannya penjaga kebun. Yang najis hanya mulut / air liurnya saja. Berdasarkan hadist, Apabila bejana kalian di jilat oleh anjing hendaklah dicuci 7 kali salah satunya dengan debu.

Menurut imam maliki, tidak najis sedikitpun dari anjing, krn tidak ada dalil di Al-Qur’an, kata imam maliki ttg pencucian 7 kali tidak menunjukkan najisnya anjing tp menguji ketaatan seseorang.

Menurut Imam Syafi’i dan Hanafi, anjing dan babi sama2najis dan apa2 yang lahir dari keduanya adalah najis. Anjing dan babi hukumnya sama najisnya dan termasuk najis berat. Itu waktu anjing memasukakn mulutnya ke gelas disuruh dicuci 7 kali, padahal yang paling mulia dari anggota tubuh adalah mulut, apa lagi anggota tubuh yang lainnya. Rasulullah SAW dulu pernah di undang oleh seseorang didalam sebuah kaum beliau datang, tapi diundang lagi sama satu orang lagi beliau tidak datang. Lalu sahabat bertanya ttg hal tersebut, beliau SAW menjawab ‘aku datang kesana karena di sana g ada anjingnya, sedangkan orang yang satunya di sana ada anjingnya’, sahabat berkata tp di rumah itu ada kucing, kata Rasulullah SAW kucing itu suci. Imam Syafii menafsirkan anjing adalah najis walau oun Rasul tidak mengatakan najis, ttp melihat dari perbandingannya dengan kucing yan dikatakan suci.

Pelajarannya adalah ketika kita diundang kita wajib datang, tp kalo ada maksiatnya maka kita tidak perlu datang. Dan para ulama lebih menguatkan pendapat Imam Syafii. Kalo mau ambil satu mazhab kita jangan mengambil yang mudah2nya saja, tp harus mengambil keseluruhan mazhab.

Tetapi para ulama sepakat bahwa memelihara anjing dalam rumah tidak mendatangkan malaikat Rahmad berdasarkan hadist dari Rasulullah SAW, Memelihara anjing bisa menghilangkan rahmad, karena malaikat Jibril tidak mau masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada gambar2 makhluk hidup dan anjing.

2. Bangkai binatang air, spt ikan dll. Para ulama mengatakan binatang air bangkainya itu tidak najis, berdasarkan hadist riwayat Abu Hurairah ra ketika ada seseorang datang kepada Rasulullah SAW mengatakan ketika dia pergi ke laut, dia hanya memiliki air sedikit yang kalo dipakai wudhu dia tidak bisa minum kalo dipakai minum dia tidak bisa wudhu, kata Rasulullah SAW air alut itu suci termasuk semua yang ada di dalamnya. Para sahabat pernah berperang dan dalam perjalanan di tengah laut dalam keadaan lapar ada ikan besar yang kami makan sebulan baru habis untuk satu pasukan

Kecuali yang berbeda pendapat mengenai anjing laut dan babi laut. Menurut mazhab Imam Maliki tidak najis, tetapi menurut jumhur ulama mengatakan najis sesuai dengan namanya didaratan termasuk singa laut.

3. Binatang yang tidak ada darahnya adalah suci dan tidak najis, walaupun sebagian syafi’iah mengatakan najis, namun ulama2 mengatakan suci. Kecuali berkenaan dengan belatung.. Menurut Imam Syafii belatung semua najis baik yang ada di tempat suci seperti di buah maupun di tempat kotor, kecuali yang tidak bisa dihindarkan. Menurut imam hambili, kalo tumbuhnya di tempat kotor maka najis tp kalo di tempat suci maka dia tidak najis (spt, di apel).

4. Kodok. Menurut imam syafii hukumnya najis, menurut imam maliki tidak najis, tp lebih kuat dikatakan najis. Termasuk juga jenis buaya. Mengharamkan makhluk2 yang menjijikkan, termasuk juga kecoa, cicek dll.

5. Binatang dikatakan bangkai apabila binatang yang mati apa bila dipotong tanpa syar’i (spt. Tanpa menyebut nama Allah), menurut imam Syafii. Atau binatang yang dipotong dengan menggunakan tulang walaupun dengan syar’i. Binatang yang tidak boleh dimakan walau dipotong dengan syar’i tetap menajdi najis

6. Tanduk, cula, gigi, taring, menurut hazhab imam hanafi termasuk suci karena tidak termasuk bangkai krn tidak hidup. Tetapi kebanyakan jumhur ulama mengatakan najis, yaitu segala bagian binatang yang diambil dalam keadaan mati. Menurut imam ahmaad hanbali Kecuali rambutnya, ttp dasar hadisnya dhoif jadi lebih baik tidak diambil. Menurut malikiah rambutnya boleh ttp makruh. Kalo Imam Syafi’i semuanya tidak boleh, yang merupakan pendapat yang lebih berhati-hati dan kuat.

7. Kotoran binatang yang dimakan dagingnya. Menurut Imam Maliki dan Imam Hambali suci, karena aslinya suci. Ttp menurut Imam Syafi’i dan Imam Hanafi najis spt kotoran sapi, kambing, burung dll. Dengan dalil Rasulullah SAW dulu pernah menyuruh mencuci kotoran orang arab waktu buang air kecil di masjid, dan Rasulullah SAW tidak pernah memisahkan antara kotoran manusia maupun kotoran binatang, semua kotoran itu najis. Rasulullah SAW juga pernah melewati sebuah kuburan bersama Ibn Abbas, kata Rasulullah SAW aku mendengar ada dua orang di dalam kuburan in sedang diadzab didalam kubur karena namimah dan yang satu lagi tidak bersih dalam istinja. Pernah Rasulullah SAW waktu berjalan bersama Abdullah bin mas’ud, lalu Rasulullah mau buang air kecil dan minta diambilkan batu, Abdullah bin Mas’ud mencari tiga batu dan memberikanya kepada Rasulullah SAW lalu Rasulullah SAW mengambil dua batu dan membuang yang satu lagi karena itu adalah kotoran unta dan merupakan najis.

8. Mani manusia dan mani binatang. Mani binatang menurut mazhab Imam Maliki dan hanafi najis, ttp menurut imam hanbali, kalo binatang itu boleh dimakan maka suci maninya. Menurut imam syafii semua binatang maninya suci kecuali babi dan anjing dan yang lahir dari padanya.
Berkenaan mani manusia, menurut Imam Maliki dan Imam Hanafi najis, sedang menurut Imam Syafi’i suci ttp di anjurkan untuk dibersihkan, tetapi dengan syarat tidak bercampur dengan mazi.

Demikian pembahasan tentang najis. Mudah-mudahan bisa membantu kita dalam berhati-hati terhadap hal-hal yang najis sehingga menambah kesempurnaan ibadah kita kepada Allah SWT. Amin.

Diposkan oleh di 20.06

Label:

BERSUCI

Pengetahuan Dasar Bersuci

Ditulis oleh Abdur Rosyid

Islam sangat mengutamakan kesucian (thaharah). Allah sering berfirman “Innallaha yuhibbul mutathahhiriin (Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang mensucikan diri)”. Bahkan, termasuk dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang mula-mula diturunkan ialah “Wa tsiyaabaka fathahhir (Dan sucikanlah pakaianmu)”. Nabi saw bersabda “Ath-thuhuuru syathrul iimaan (Kesucian itu separuh iman)”. Kesucian yang dimaksud mencakup kesucian fisik dan kesucian jiwa.

Karena sedemikian pentingnya kesucian ini pulalah, Allah mempersyaratkan keadaan “suci”dalam pelaksanaan berbagai macam ibadah seperti sholat. Bahkan karena saking pentingnya masalah kesucian ini, buku-buku Fiqih Islam pasti selalu diawali dengan bab Bersuci (Thaharah).

Berikut ini beberapa pengetahuan mendasar mengenai Fiqih Bersuci (Thaharah).

Air (Miyah)

Macam-macam air :

  1. Air muthlaq : air hujan, air salju (air es), embun, air laut, air zamzam, air yang berubah sifat karena lama berada ditempatnya, karena tempatnya, atau karena bercampur dengan sesuatu yang biasanya sulit dipisahkan darinya. Hukumnya : suci dan mensucikan.

  2. Air musta’mal, yaitu air bekas wudhu atau mandi. Hukumnya sama dengan air muthlaq.

  3. Air yang bercampur dengan sesuatu yang suci (seperti sabun dsb). Hukumnya suci dan mensucikan selama masih mempertahankan sifatnya sebagai air muthlaq. Adapun jika telah keluar dari kemuthlaqannya maka hukumnya adalah suci tetapi tidak mensucikan.

  4. Air yang terkena najis. Jika terjadi perubahan pada salah satu dari tiga sifatnya (bau, warna, rasa) maka tidak boleh digunakan untuk bersuci. Tetapi jika tidak terjadi perubahan pada salah satu dari tiga sifat tersebut maka hukumnya tetap suci dan mensucikan.

Sisa minuman (al-su’r) :

  1. Jika yang meminum adalah manusia, maka air tersebut tetap suci.

  2. Jika yang meminum adalah hewan yang dagingnya boleh dimakan, maka air tersebut tetap suci.

  3. Jika yang meminum adalah bighal, kuda, dan binatang buas, maka air tersebut tetap suci.

  4. Jika yang meminum adalah kucing, maka air tersebut tetap suci.

  5. Jika yang meminum adalah anjing dan babi, maka air tersebut menjadi najis.

Najis (Najasah) dan Cara Mensucikannya

Yang termasuk najis :

  1. Bangkai, kecuali bangkai manusia, bangkai ikan dan belalang, bangkai dari hewan yang tidak memiliki darah yang mengalir (semut, madu, dsb), tulang, tanduk, kuku, rambut, dan bulu.

  2. Darah, meliputi darah yang mengalir dan darah haidh / nifas.

  3. Daging babi.

  4. Muntahan manusia.

  5. Air kencing dan tinja manusia.

  6. Wadi : air berwarna putih kental yang keluar mengiringi kencing.

  7. Madzi : air berwarna putih yang keluar ketika sedang melamunkan senggama atau sedang bercumbu.

  8. Mani : air berwarna putih kental yang keluar disertai rasa nikmat dari kemaluan. Hukumnya diperselisihkan, namun yang lebih kuat adalah bahwa mani itu suci. Akan tetapi dianjurkan untuk membasuhnya jika masih basah dan mengeriknya jika telah kering.

  9. Kotoran dan air kencing dari hewan yang dagingnya tidak boleh dimakan.

  10. Jallaalah : hewan yang biasa memakan sesuatu yang najis. Tidak lagi dianggap najis setelah sekian lama dijauhkan dari makanan yang najis sehingga diyakini telah suci kembali.

  11. Khamr. Menurut jumhur hukumnya najis. Akan tetapi terdapat pula yang mengatakan bahwa khamr itu suci. Mereka mengatakan bahwa kenajisan khamr sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an adalah najis maknawi.

  12. Anjing.

Cara mensucikan najis :

dengan menghilangkan seluruh sifat najis (bau, warna, dan rasanya) dari benda yang ingin disucikan. Apabila terdapat sifat yang sangat sulit untuk dihilangkan (seperti warnanya) maka hal itu dimaafkan. Untuk benda yang dijilat oleh anjing maka cara mensucikannya ialah dengan membasuhnya tujuh kali dimana yang pertama dicampur dengan tanah. Adapun kulit, maka ia menjadi suci dengan cara disamak.

Wudhu

Tujuan wudhu : menghilangkan hadats kecil.

Fardhu-fardhu (rukun-rukun) wudhu :

  1. Niat : tidak usah dilafalkan.

  2. Membasuh wajah satu kali.

  3. Membasuh kedua tangan sampai sikut.

  4. Mengusap kepala, bisa dengan salah satu dari tiga cara :

  5. Mengusap kepala seluruhnya.

  6. Mengusap diatas serban saja.

  7. Mengusap diatas ubun-ubun dan serban.

  8. Membasuh kedua kaki sampai mata kaki.

Sunnah-sunnah wudhu :

  1. Membaca basmalah di awal.

  2. Bersiwak terlebih dulu.

  3. Membasuh kedua telapak tangan tiga kali di awal.

  4. Madhmadhah (mengkumur-kumurkan air di mulut) tiga kali.

  5. Istinsyaq (memasukkan air kedalam hidung ) kemudian istintsar (menghembuskan air dari dalam hidung) tiga kali.

  6. Menyilang-nyilang jenggot.

  7. Menyilang-nyilang jari-jemari.

  8. Menigakalikan basuhan.

  9. Mendahulukan bagian tubuh sebelah kanan.

  10. Menggosok dengan tangan (bersamaan dengan lewatnya air ataupun sesudah lewatnya air).

  11. Muwaalaah (segera secara berturut-turut).

  12. Mengusap kedua telinga.

  13. Memperluas cahaya dengan mengusap lebih dari bagian yang wajib.

  14. Hemat dalam memakai air.

  15. Berdo’a selama berwudhu hanya dengan do’a yang diajarkan oleh Nabi saw.

  16. Berdo’a sesudah berwudhu.

  17. Sholat dua raka’at sesudah berwudhu.

Yang membatalkan wudhu :

  1. Yang keluar dari qubul dan dubur : buang air kecil, buang air besar, buang angin, mengeluarkan madzi, mengeluarkan wadi.

  2. Tidur nyenyak (lelap) tidak dengan tetapnya pinggul pada tanah.

  3. Hilang akal : karena gila, pingsan, mabuk, ataupun obat, baik sedikit ataupun banyak.

  4. Menyentuh kemaluan tanpa penghalang.

Hukum Mengusap

  1. Mengusap sepatu (khuff) dan kaos kaki boleh dilakukan sebagai ganti atas membasuh kedua kaki, dengan syarat bahwa sepatu atau kaos kaki tersebut mulai dipakai ketika orang yang memakai dalam keadaan tidak berhadats. Mengusap ini boleh dilakukan dalam jangka waktu sehari semalam bagi yang muqim dan tiga hari tiga malam bagi musafir.

  2. Apabila seseorang memiliki luka yang tidak boleh dibasuh maka hendaknya ia mengusap lukanya tersebut. Apabila mengusap langsung pada luka juga tidak boleh, maka hendaklah ia mengusap pada pembalutnya.

Tayammum

Sebab-sebab diperbolehkannya tayammum :

1.      Jika kita tidak mendapatkan air, atau mendapatkan akan tetapi tidak cukup untuk thaharah.

2.      Jika kita sedang mengalami luka atau sakit, dan dikhawatirkan bahwa jika kita menggunakan air maka sakit kita akan bertambah parah atau kesembuhannya akan bertambah lama, baik kekhawatiran itu datang dari tajribah (pengalaman) ataupun melalui keterangan ahlinya (dokter).

3.      Jika airnya amat dingin menggigit, dan kita amat yakin bahwa berbahaya jika kita menggunakan air tersebut, dengan syarat bahwa kita tidak mampu memanaskannya meskipun dengan cara mengupah, atau kita sangat kesulitan untuk mendapatkan air yang lebih hangat.

4.      Jika ada air di tempat yang tidak jauh, namun jika kita keluar mengambilnya maka jiwa kita, kehormatan (‘irdh) kita, atau harta kita menjadi terancam. Termasuk dalam kategori ini adalah jika diantara tempat kita dan tempat air terdapat sesuatu yang sangat kita takuti, seperti musuh, perangkap, ranjau, atau binatang buas.

5.      Jika ada air di tempat yang tidak jauh, namun kita tidak mampu mengambilnya karena tidak memiliki alat untuk mengambilnya, seperti tali, timba, dsb.

6.      Jika air yang ada lebih dibutuhkan untuk minum, termasuk didalamnya untuk diminum oleh hewan; atau lebih dibutuhkan untuk memasak makanan; atau lebih dibutuhkan untuk menghilangkan najis yang berat.

7.      Jika ada air, namun jika kita mengambilnya maka kita yakin akan kehabisan waktu sholat.

Cara melakukan tayammum :

1.      Niat.

2.      Membaca basmalah.

3.      Menyentuhkan kedua telapak tangan pada debu.

4.      Meniup kedua telapak tangan.

5.      Mengusap (dengan kedua telapak tangan) wajah kemudian kedua tangan sampai pergelangan tangan.

Mandi

Sebab-sebab diwajibkannya mandi :

  1. Keluar mani karena syahwat. [Jika keluar mani tidak karena syahwat tetapi karena sakit, terlalu lelah, atau kedinginan, maka tidak wajib mandi]

  2. Masuknya kemaluan laki-laki kedalam kemaluan perempuan.

  3. Usai haidh atau nifas.

  4. Meninggal dunia.

  5. Orang kafir ketika masuk Islam.

Diharamkan bagi yang sedang junub, haidh, atau nifas :

  1. Sholat.

  2. Thawaf.

  3. Memegang dan membawa mushaf.

  4. Membaca Al-Qur’an.

  5. Berdiam di masjid.

Mandi sunnah :

  1. Mandi sebelum sholat jum’at : dilakukan antara terbitnya fajar shadiq (masuk waktu sholat shubuh) sampai sebelum berangkat sholat jum’at. Tetapi yang lebih disukai adalah menjelang berangkat sholat jum’at.

  2. Mandi sebelum sholat ‘id.

  3. Mandi setelah memandikan mayit.

  4. Mandi sebelum ihram.

  5. Mandi sebelum masuk Makkah.

  6. Mandi sebelum wuquf di Arafah.

Fardhu-fardhu (rukun-rukun) mandi :

  1. Niat.

  2. Mengguyur seluruh tubuh dengan air.

Sunnah-sunnah mandi :

Disunnahkan melakukan mandi dengan urutan sebagai berikut :

Mulai dengan kedua tangan (sampai dengan pergelangan tangan) tiga kali, kemudian membasuh kemaluan, kemudian berwudhu (tanpa membasuh kedua kaki), kemudian mengguyurkan air pada kepala dengan mengacak-acak rambut [kecuali wanita maka tidaklah harus mengacak-acak rambutnya], kemudian mengguyur seluruh tubuh dengan menggosok-gosok badan [jangan kelewatan pula ketiak, daun telinga, pusar, dan jari-jari kaki], kemudian terakhir adalah membasuh kedua kaki.

Disunnahkan pula bagi wanita yang mandi seusai haidh atau nifas untuk mengoleskan minyak wangi (dengan bantuan kapas dan sebagainya) pada sisa-sisa darah, agar tidak tersisa bau darah yang tidak sedap.

Hukum Haidh, Nifas, dan Istihadhah

Haidh : darah yang keluar dari kemaluan wanita setiap bulan.

Warna darah haidh : hitam, merah, kuning, atau antara putih dan hitam (seperti air keruh).

Lama masa haidh :

Tidak ada nash shahih yang berbicara mengenai lama masa haidh, baik minimalnya ataupun maksimalnya. Untuk menentukan lama masa haidh maka pertama-tama didasarkan pada kebiasaan. Jika tidak ada kebiasaan maka didasarkan pada ciri-ciri yang bisa digunakan sebagai tamyiz (pembeda).

Lama masa suci :

Mengenai lama maksimal suci, para fuqaha sepakat bahwa tidak ada batasan waktu tertentu. Adapun mengenai lama minimal suci, para fuqaha berbeda pendapat. Namun yang paling benar ialah tidak ada dalil yang bisa dijadikan hujjah mengenai durasi minimal suci.

Nifas : darah yang keluar dari kemaluan wanita karena melahirkan ataupun keguguran.

Lama masa nifas :

  1. Minimal : tidak ada batasan.

  2. Maksimal : empat puluh hari.

Darah istihadhah : darah yang keluar dari kemaluan wanita diluar kebiasaan, sehingga tidak bisa dikatakan sebagai haidh ataupun nifas.

Hukum-hukum bagi yang mengalami istihadhah :

  1. Menurut jumhur ulama, tidak wajib mandi kecuali setelah usai haidh atau nifasnya.

  2. Menurut jumhur ulama, wajib berwudhu setiap kali akan sholat.

  3. Menurut jumhur ulama, hendaknya membasuh darah istihadhahnya setiap sebelum berwudhu, lalu membalutkan kapas, pembalut, dan semacamnya.

  4. Menurut jumhur ulama, hendaknya tidak berwudhu kecuali sesudah masuk waktu sholat yang akan dilaksanakannya.

  5. Menurut jumhur ulama, tetap boleh berhubungan badan.

  6. Ia dihukumi sebagaimana wanita yang suci, sehingga ia boleh sholat, berpuasa, beriktikaf, menyentuh mushaf, membaca Al-Qur’an, dan sebagainya.

Adab Buang Hajat

  1. Hendaknya tidak memasuki tempat buang hajat sambil membawa sesuatu yang bertuliskan nama Allah, kecuali jika dikhawatirkan sesuatu tersebut akan hilang diambil orang atau menjadi rusak.

  2. Hendaknya tempat buang hajat itu terpisah dan terlihat oleh banyak orang, terutama saat buang air besar, agar suaranya tidak terdengar atau baunya tercium.

  3. Mengucapkan basmalah dan doa ta’awudz secara jahr ketika hendak masuk tempat buang hajat. Doa ta’awudz tersebut ialah “Allahumma innii a’uudzu bika minal khubutsi wal khabaa-its”. Selanjutnya hendaknya masuk ke tempat buang hajat dengan mendahulukan kaki kiri.

  4. Tidak berbicara apapun juga, meskipun itu dzikir (yang dilafazhkan), menjawab salam, ataupun menjawab adzan. Hendaknya hanya berbicara seperlunya pada saat terpaksa harus melakukannya.

  5. Hendaknya menghormati kiblat dengan cara tidak menghadap atau membelakanginya, kecuali jika antara dia dan kiblat terdapat penghalang.

  6. Hendaknya memilih tempat yang sesuai sehingga najis kotoran kita tidak mudah mengenai kita ataupun orang lain.

  7. Hendaknya tidak buang hajat di tempat-tempat berlubang yang biasa dihuni binatang, karena hal itu bisa menyakiti binatang yang ada didalamnya.

  8. Hendaknya tidak buang hajat ditempat dimana manusia biasa bernaung, berkumpul, ataupun di tempat yang biasa dilalui oleh manusia.

  9. Hendaknya tidak buang hajat pada air (sungai) baik yang diam ataupun yang mengalir. Demikian pula hendaknya tidak buang hajat dalam kamar mandi, kecuali jika hal itu tidak menyebabkan kita mudah terkena najis saat mandi.

  10. Hendaknya tidak buang hajat dengan berdiri, kecuali jika kita aman dari percikan kotorannya.

  11. Harus menghilangkan najis sisa kotoran yang ada pada qubul atau dubur, dengan salah satu dari tiga : 1) dengan batu ataupun benda padat lainnya yang suci dan dapat menghilangkan najis (diantaranya karena mudah menyerap), disamping bukan barang yang sangat dihormati (misalkan kertas bertuliskan Al-Qur’an), 2) dengan air, 3) gabungan antara nomor 1 dan 2.

  12. Hendaknya tidak beristinja’ dengan tangan kanan.

  13. Hendaknya mencuci tangannya selesai istinja’ dengan tanah, air sabun, atau yang semacamnya, agar baunya yang tidak sedap bisa hilang.

  14. Hendaknya mencuci bagian di sekeliling qubul dan dubur dengan air untuk menghilangkan rasa was-was.

  15. Keluar dari tempat buang hajat dengan mendahulukan kaki kanan lalu berdoa “Alhamdulillahilladzi adzhaba ‘annil adzaa wa ‘aafaanii”.

Sunanul Fithrah : tuntunan-tuntunan yang disyariatkan selaras dengan fithrah manusia.

  1. Khitan : bagi laki-laki. Adapun bagi perempuan tidak harus.

  2. Memotong rambut kemaluan.

  3. Mencabut bulu ketiak.

  4. Memotong kumis. Boleh juga memanjangkannya asal tidak terlalu panjang.

  5. Memanjangkan jenggot tetapi tidak boleh terlalu panjang sehingga kelihatan tidak terurus.

  6. Memuliakan rambut dengan cara menyisir dan meminyakinya.

  7. Membiarkan uban baik yang ada di kepala maupun yang ada pada jenggot, laki-laki ataupun perempuan.

  8. Memakai minyak wangi agar membuat jiwa menjadi senang dan semakin bersemangat.

HUKUM SYARA’

Tanbihun – Melanjutkan pembahasan tentang Definisi Hukum Syara’, Akal dan Adat , diteruskan dengan penjelasan definisi Ahkamul khamsah atau hukum-hukum Islam yang lima ;

  1. Wajib, yaitu :  Suatu perbuatan yang apabila dikerjakan mendapatkan pahala dan apabila ditinggalkan mendapatkan siksa. Seperti shalat fardhu, puasa ramadhan, mengeluarkan zakat, haji dan lainnya. Wajib ini menunjukkan perintah yang tetap.
  2. Sunnah, yakni : Suatu perbuatan yang apabila dikerjakan mendapat pahala, dan apabila ditinggalkan tidak mendapat siksa. Seperti shalat tahiyyatul masjid, shalat dhuha, puasa senin-kamis dan lainnya. Sunnah ini menunjukkan perintah yang tidak tetap.
  3. Haram, yaitu ; Suatu perbuatan yang apabila ditinggalkan mendapat pahala dan apabila dikerjakan mendapat siksa. Seperti minum arak, berbuat zina, mencuri, dan lain sebagainya. Haram ini menunjukkan larangan yang tetap.
  4. Makruh, yaitu ; Suatu perbuatan yang apabila ditinggalkan mendapat pahala, dan apabila dikerjakan tidak mendapat siksa. Seperti mendahulukan yang kiri atas kanan saat membasuh anggota badan dalam wudhu. makruh ini menunjukkan larangan yang tidak tetap.
  5. Mubah, yaitu ; Suatu perbuatan yang apabila dikerjakan atau ditinggalkan sama saja tidak mendapat pahala atau siksa. Seperti makan, minum. Mubah ini tidak menunjukkan perintah yang tetap atau yang tidak tetap. dan tidak menunjukkan larangan tetap atau laraangan tidak tetap.(zid)

Sumber :

Kitab Ri’ayah al-himmah jilid 1 bab fikih