Skip to content

ISTINJA’

March 29, 2013

Permasalahan Istinja’ dan Istijmar

Publikasi: Kamis, 2 Zulhijjah 1433 H / 18 Oktober 2012 07:47 WIB

istijmar dan istinjaBab Ketiga – Terkait dengan Menunaikan Hajat dan Adabnya, dan Masalahnya

Kajian fiqih ibadah kita yang diambil dari Kitab Fiqhul Muyassar fii Dhow’il Kitabi was Sunnah, karya sekumpulan ulama. Kita masuk ke Al Bab Ats-Tsaalits, halaman 25.

Kita masuk ke bab ketiga, terkait dengan buang hajat. Kalau disini dikatakan ‘Menunaikan Hajat’. Karena hajat adalah kebutuhan, tidak mungkin dibuang tapi ditunaikan. Pembahasan kita terkait dengan adab-adabnya dan di dalam pembahasan ini juga ada beberapa permasalahan.

Masalah pertama: Istinja’, ‘Istijmar, dan Melakukan Salah Satu dari Keduanya dan Mengakhirkan Yang Lain.

Al Istinja’ adalah menghilangkan bekas-bekas yang keluar dari salah satu dari dua jalan dengan air. Sedangkan Al Istijmar adalah mengusapnya dengan sesuatu yang bersih dan dibolehkan, seperti batu dan sebagainya.

Jadi berbeda antara istinja’ dengan istijmar. Kalau istinja’, tujuannya adalah membasuh habis. Sedangkan istijmar hanya menyekanya saja. Salah satu di antara keduanya boleh digunakan karena jelas ada hadits dari Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Anas ra, “Rasulullah SAW masuk ke dalam toilet. Saya dan salah seorang budak lain membawa bejana berisikan air dan ‘anzah . ‘Anzah ini adalah alat yang bersih. namun Rasulullah SAW memilih untuk beristinja’ dengan air.” (HR. Muslim)

Dari ‘Aisyah ra bahwa Nabi SAW bersabda, “Jika salah seorang dari kamu pergi buang air, maka hendaklah ia beristijmar minimal dengan tiga buah batu. Maka itu sudah cukup.” (HR. Ahmad dan Ad Daroqothni).

Jika dikerjakan keduanya, maka lebih afdhol. Jadi kalau dikerjakan keduanya, istinja’ dan istijmar, maka lebih afdhol.

Kita ini kan mengikuti mazhab Syafi’i, dan mazhab beliau ini ketat. Kita berpikir jika hanya dengan batu, apakah selesai persoalan? Makanya mazhab Imam Syafi’i ini berkembang di daerah yang banyak air. Kenapa di Pakistan tidak ada mazhab Syafi’i, atau di Aljazair misalnya. Karena akan sulit bagi mereka, dibandingkan dengan kita. Kalau kita, hidup di daerah yang banyak air, maka itu terus berkembang mazhab Syafi’i.

Istijmar ini sah atau cukup dikerjakan dengan batu atau apa saja yang menyerupai batu dan bersih, yang dibolehkan seperti sapu tangan, daun atau kertas, kayu, dan lain-lain. Nabi SAW ketika beristijmar menggunakan batu. Gabungkanlah dengan apa saja yang bisa membersihkan. Tidak cukup istijmar, jika kurang dari tiga kali sapuan.]

Jadi kesimpulannya, istijmar jangan kurang dari tiga benda. Kalau batu, tiga batu. Kalau kayu, tiga kayu. Dan menggunakan yang bersih dan membersihkan, boleh daun atau kertas.

Masalah Kedua: Menghadap dan Membelakangi Qiblat ketika Menunaikan Hajat.

Tidak boleh menghadap atau membelakangi qiblat ketika menunaikan hajat di padang pasir yang tidak ada batas. Jadi kalau di dalam toilet atau tempat yang tertutup, ini tidak masalah. Yang dilarang itu jika pada tempat yang terbuka.

Hadits dari Abu Ayyub Al Anshori ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika kamu pergi menunaikan hajat, maka jangan menghadap qiblat atau membelakanginya, akan tetapi arahkan ke timur atau ke barat.” Abu Ayyub mengatakan, “Kami pergi ke Syam dan kami menemukan toilet-toilet dibangun menghadap ke arah Ka’bah. Lalu kami memalingkan badan kami dan memohon ampun kepada Allah.” (Muttafaqun ‘alaih).

Menghadap ke timur atau ke barat, ini karena Rasulullah SAW tinggal di Madinah. Akan berbeda dengan kita yang hidup di Indonesia. Karena kalau kita menghadap ke timur atau ke barat, kita malah menghadap ke arah Ka’bah.

Nah, bisa kita lihat disini, negara Syam sudah sejak jaman dahulu merupakan negara maju, karena sudah ada toilet-toilet umum disana ketika itu.

Adapun jika ia dibangun dalam suatu bangunan, atau ada yang membatasinya dengan qiblat, maka tidak masalah. Hadits dari Ibnu Umar ra, “Sesungguhnya aku pernah melihat Rasulullah SAW buang air kecil dirumahnya menghadap ke Syam dan membelakangi Ka’bah.” (Muttafaqun ‘alaih).

Dan juga hadits dari Marwan Al Ashghar ra, “Suatu ketika Ibnu Umar ra menjadikan kudanya sebagai penghalang kepada qiblat, dan duduk dibelakangnya. Lalu aku bertanya, ‘Wahai Abu Abdurrahman, bukankah dilarang menunaikan hajat menghadap qiblat seperti ini?’ Ia menjawab, ‘Betul, tapi dilarangnya di tempat yang lapang, tapi kalau ada yang membatasi antara kamu dengan qiblat, itu tidak masalah’.” (HR. Abu Daud, Ad Daroqothni, Al Hakim). Tapi yang afdhol meninggalkan menghadap atau membelakangi qiblat kendatipun kita berada dalam bangunan. Wallahu a’lam.

Jadi Ibnu Umar ra melakukan hal ini, dan ini tidak masalah karena ia menjadi kudanya sebagai penghalang antara dirinya dan qiblat. Luar biasa Islam menjaga adab-adab ini.

Masalah Ketiga: Apa-apa Saja Yang Disunnahkan Ketika Masuk ke Dalam Toilet.

Disunnahkan bagi mereka yang hendak memasuki toilet, untuk membaca “Bismillah, Allahuma inni ‘audzubika minal khubuts wal khoba’its.

Apa yang dimaksud dengan ‘khubuts wal khoba’its’? ‘Khubuts’ itu setan, dan ‘khoba’its’ adalah bentuk jamaknya. Lalu setelah kita selesai dan keluar dari toilet, “Ghufronaka.”

Perhatikan disini, dilakukan setelah kita keluar, bukan ketika kita masih di dalam kamar mandi. Dan juga mendahulukan kaki kiri ketika masuk dan mendahulukan kaki kanan ketika keluar. Dan jangan ia membuka auratnya sampai ia mendekat ke tempat menunaikan hajat.

Jadi membuka auratnya ketika kita benar-benar mau menunaikan hajat itu. Inilah sunnahnya. Kalau ia terpaksa menunaikan hajat di tempat yang terbuka, disunnahkan ia menjauh dan menutup dirinya sehingga ia tidak terlihat. Dalil yang menjelaskan itu semua adalah hadits dari Jabir ra, “Kami keluar bersama Rasulullah SAW dalam satu perjalanan, maka Rasulullah SAW tidak mendatangi tempat membuat kotoran sampai beliau tidak terlihat.” (HR. Ibnu Daud dan Ibnu Majah).

Dan hadits dari Ali ra, Rasulullah SAW bersabda, “Penutup antara jin dan bani Adam, ketika ia memasuki kamar mandi adalah dengan membaca ‘bismillah’.” (HR. Ibnu Majah, Tirmidzi, dihasankan oleh Ahmad, dan dishahihkan oleh Al Albani).

Kalau kita tidak membaca basmalah, jin itu mengikuti kita sehingga kita tidak tertutup dari mereka.

Hadits dari Anas ra, “Jika hendak memasuki kamar mandi, ucapkanlah: ‘Bismillah, Allahuma inni ‘audzubika minal khubuts wal khoba’its.’” (Muttafaqun ‘alaih)

Hadits dari ‘Aisyah ra, Rasulullah SAW setiap keluar dari kamar mandi mengucapkan, ‘Ghufronaka’. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi dengan sanad hasan ghorib. Al Albani menghasankan.)

Dan hadits dari Ibnu Umar ra, bahwa Nabi SAW setiap hendak menunaikan hajat tidak mengangkat pakaiannya sampai dekat sekali dengan bumi. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)]

Maksudnya di sini Rasulullah SAW jongkok terlebih dahulu baru kemudian mengangkat pakaiannya.

Masalah Keempat: Apa Yang Diharamkan Ketika Menunaikan Hajat

Diharamkan membuang air kecil di air yang tidak mengalir atau tergenang. Hadits dari Jabir ra, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya dilarang membuang air kecil di air yang tidak mengalir.” (Muttafaqun ‘alaih).

Tidak boleh memegang kemaluan dengan tangan kanan ketika buang air, tidak boleh juga beristinja’ dengan tangan kanan. Disabdakan oleh Rasulullah SAW, “Jika salah seorang dari kamu buang air kecil, janganlah memegang kemaluan dengan tangan kanan dan jangan juga beristinja’ dengannya.” (Muttafaqun ‘alaih).

Diharamkan juga buang air kecil dan buang air besar di jalan, di tempat orang bernaung, di tempat-tempat umum, atau di bawah pohon yang berbuah, atau di sumber-sumber air. Sabda Rasulullah SAW, “Hindari dirimu pada tiga tempat yang dilaknat ini, buang kotoran di sumber air, di jalan, dan termpat bernaung.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah, dengan sanad hasan). Hadits dari Abu Huroiroh ra, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Hindarilah dua perkara?’, lalu aku bertanya: ‘Apa dua perkara itu ya Rasulullah?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Di jalan tempat lewat manusia, atau tempat mereka berteduh.’” (HR. Muslim).

Diharamkan juga membaca Al Qur’an. Dan diharamkan juga beristijmar dengan kotoran, tulang atau makanan yang bersih dan dihormati. Sebuah hadits dari Jabir ra, “Dilarang untuk beristinja’ dengan tulang dan kambing.” (HR. Muslim).

Di Damaskus itu, diyakini kubur Khalid bin Walid ra ada disitu. Saya pernah kesana. Orang Syi’ah itu datang dari Iran ke situ untuk mengencingi kuburan itu.

Masalah Kelima: Yang Dimakruhkan

Dimakruhkan ketika menunaikan hajat mengarah ke tiupan angin agar tidak kembali lagi. Dimakruhkan bicara. Ada orang yang datang ketika Rasulullah SAW sedang di kamar mandi, ia memberikan salam tapi Rasulullah tidak menjawab. (HR. Muslim).

Dimakruhkan buang air di tempat-tempat yang berlubang, ada hadits dari Qatadah ra, Nabi SAW melarang untuk buang air di tempat yang berlubang. Qatadah bertanya apa yang membuat lubang itu dilarang. Rasulullah SAW menjawab karena itu tempat tinggal jin. (HR. Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Hajar). Begitu juga tidak ada jaminan untuk aman dari hewan yang ada didalamnya atau tempat tinggal jin yang bisa menyakiti mereka.

Dimakruhkan membawa ke dalam kamar mandi, sesuatu barang yang tertera nama Allah diatasnya kecuali karena terpaksa. Karena Rasulullah SAW setiap hendak masuk kamar mandi selalu melepaskan cincin beliau. (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah).

Cincin Rasulullah tertulis nama Allah, yaitu Muhammadar Rasulullah, yang digunakan sebagai stempel beliau. Kalau terpaksa, maka tidak masalah. Seperti misalnya tulisan nama Allah yang tertera di atas mata uang yang kita miliki, sebab jika ia tinggal di luar bisa saja ia lupa atau dicuri orang. Adapun mushaf Al Qur’an, diharamkan untuk membawanya masuk ke dalam kamar mandi baik secara tegas maupun secara tersembunyi. Dia adalah Kalamullah dan kalam yang paling mulia, dan membawanya masuk ke dalam toilet merupakan penghinaan terhadap Allah SWT.

Makanya kalau ada handphone yang didalamnya ada software Al Qur’an, matikan. Minimal dimatikan. Karena kalau masih dihidupkan, masih ada Al Qur’an-nya. Tapi kalau dimatikan, dia akan hilang dari rupa mushaf. Terkadang kita sering lupa. Nah, untuk lebih mudah lagi, kita bisa menggunakan Al Qur’an yang online jika di handphone. Karena kalau yang online, ketika sedang tidak online artinya di handphone tidak ada mushaf Al Qur’an. Sementara kita juga perlu ada Al Qur’an di dalam handphone kita.

Itu adab-adab yang masya Allah jika kita amalkan, luar biasa. Mungkin terlihat kecil, tapi dari hal-hal yang seperti inilah kita merasakan rahmatnya Islam itu. Ketika kita tinggal di tempat yang airnya banyak, maka kita beristinja’. Bisa juga ketika kita tinggal di tempat yang airnya sedikit, padahal kita tidak tahu takdir menentukan kita tinggal dimana. Bisa saja kita suatu saat ditakdirkan untuk tinggal di tempat yang sulit air. Atau misalnya di Sukabumi saat musim kemarau, disana agak sulit air. Maka kita bisa beristijmar.

Karena kalau kita pikirkan, air lebih penting untuk berwudhu’ atau lebih penting untuk minum? Tentu kita pentingkan untuk minum, lalu untuk sholat kita bertayamum saja. Karena untuk minum kita tidak bisa ganti dengan yang lain. Sedangkan wudhu’ bisa diganti dengan tayamum.

Maka itu, pola berpikir efektif dan skala prioritas, sudah diajarkan Islam melalui ibadah seperti ini. Jadi ketika kita me-manage kehidupan, jadi kecil persoalannya. Kita ini terbalik. Ketika bicara kehidupan seakan kita ingin efisien dan efektif, tapi ketika bicara ibadah berbeda. Harusnya dimulai dari ibadah. Luar biasa. Jika suatu saat Allah takdirkan kering daerah tempat tinggal kita, kita masih memiliki solusi dengan tayamum atau dengan istijmar.

Demikian jama’ah sekalian. Semoga Allah SWT senantiasa memudahkan langkah kita untuk mencari ilmu, dengan demikian Allah memudahkan langkah kita ke surga. Silahkan jika ada pertanyaan, baik untuk materi yang pertama maupun untuk materi yang kedua, atau untuk masalah kehidupan.

Wallahu ta’ala a’lam.

Advertisements

From → Uncategorized

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: